Cengbeng, Tradisi Warga Tionghoa Ziarah Makam Leluhur (1)

Pada 5 April, masyarakat Tionghoa melakukan ziarah untuk menghormati dan mendoakan arwah leluhur. Disebut sebagai ritual Cengbeng atau Qingming. Sebagai upaya pelestarian tradisi turun-temurun. Terdapat sejarah panjang di balik Ceng Beng dan beberapa versi cerita yang menyelimutinya.

Umat Buddha Mahayana, salah satu umat yang tergabung dalam Perkumpulan Doa Bersama Lotus di Pandegiling, menyelenggarakan ritual Ceng Beng. Demi mendoakan arwah leluhur. Peribadatan tersebut dilakukan di bangunan Lotus.

Di sisi kanan bangunan bekas Hotel Himalaya tersebut disediakan beberapa sajian untuk leluhur. Sebelum memulai peribadatan, Hanadi Soehardjo Hartono, salah satu umat Lotus bercerita panjang lebar tentang Ceng Beng. "Bagi umat Buddha, Cengbeng bukan hari besar keagamaan. Melainkan hanya untuk melanjutkan tradisi turun-temurun saja," ujarnya.

Dari berbagai literatur, ritus Cengbeng diperkirakan muncul pada masa kekuasaan Dinasti Han di Tiongkok. Sekitar 202-210 SM. Berlanjut pada era Dinasti Tang yang berkuasa pada 618-907 Masehi dan di bawah kekuasaan Dinasti Tang, tradisi tersebut mengalami perubahan. Tepatnya pada masa pemerintahan Kaisar Xuanzong.

Kaisar Xuanzong

Kaisar Xuanzong melihat ritual persembahyangan terhadap leluhur pada masa itu banyak menelan biaya dan tata caranya sangat rumit. Ditambah, persembahyangan tersebut berkali-kali dilakukan. Kerumitan tersebut tentu membuat susah rakyat. Terutama bagi mereka yang berpenghasilan rendah. "Maka karena keprihatinan dan rasa sayang terhadap rakyatnya, kaisar mengubah tradisi itu. Ia memerintahkan bahwa ritual tersebut cukup dilakukan sekali dengan mengunjungi makam leluhur sambil berdoa," ungkapnya.

Pengumuman kaisar memuat waktu pelaksanaan ritual tersebut. Yakni pada pertengahan musim semi. Sejak itulah muncul istilah Chin Ming atau Cengbeng. Chin berarti bersih dan Ming artinya cerah. "Istilah tersebut berarti menandai datangnya musim panas dan tiba waktunya untuk mengunjungi makam atau saat mendoakan leluhur," terangnya.

Namun ada pula versi lain yang menyebut bahwa ritual Cengbeng dilangsungkan pertama kali atas perintah Kaisar Zhu Yuan Zang, pendiri Dinasti Ming. Kaisar tersebut bukan berasal dari kalangan bangsawan. Melainkan dari rakyat jelata yang berhasil menggulingkan pemerintahan Dinasti Yuan bersama pasukan pemberontak "Sorban Merah".

Mirip kisah Ken Arok penguasa Singhasari, Zhu Yuan Zang dikenal tangkas dan pandai. Sehingga dalam sekejap ia telah menjadi orang paling berpengaruh dalam kelompok pemberontak tersebut. Ketika Dinasti Yuan digulingkan, ia diangkat menjadi Kaisar pertama dari dinasti baru: Dinasti Ming.

Usai penaklukkan, Zhu Yuan Zang kembali ke desa untuk mengunjungi orang tuanya demi mengabarkan bahwa ia telah diangkat menjadi penguasa negeri. Namun ketika sampai, Kaisar Zhu Yuan Zang mendapati kedua orang tuanya telah meninggal. "Makamnya tidak diketahui. Maka kaisar menitahkan rakyatnya untuk menziarahi makam leluhur mereka pada pertengahan musim semi," ungkap pria 58 tahun itu. Selain itu, kaisar juga menitahkan pada rakyatnya untuk membersihkan makam dan melekatkan kertas kuning di atasnya. Sebagai tanda bahwa makam telah dibersihkan.

Kaisar Zhu Yuan Zang mengunjungi makam-makam yang ada di kampung halamannya di daerah Fengyang, Tiongkok. Kemudian meyakini bahwa salah satu di antara ribuan makam tersebut adalah makam kedua orang tuanya. Maka tiap tahun pada hari Cengbeng, ia mengunjungi makam-makam itu dan berdoa di sekitarnya.

Tradisi itu berlangsung sampai saat ini. Masyarakat Tionghoa yang menganut agama apapun masih banyak yang melestarikannya. Seperti umat Buddha Mahayana di Lotus. Meski bukan hari besar, tradisi Cengbeng sangat berkaitan dengan ajaran Buddha. Terutama tentang penghormatan atau bakti terhadap orang tua.

Kaisar Zhu Yuan Ziang

Dalam salah satu sabdanya, Sang Buddha menyejajarkan orang tua dengan Dewa Brahma. Yakni salah satu Dewa dalam kepercayaan Hindu. Brahma merupakan Dewa yang muncul pertama kali dan menjadi penyebab muasal semesta. Buddha mengkonstruksi Brahma sebagai diri dari kedua orang tua. Ayah dan ibu yang menjadi penyebab kelahiran manusia. "Buddha bersabda, ibu dan ayah disebut ‘Brahma’, ‘Guru awal’ dan pantas dipuja karena penuh kasih sayang terhadap anak-anak mereka," tuturnya.

Maka penghormatan seorang anak terhadap kedua orang tua tak hanya dilakukan pada masa ketika keduanya hidup saja. Jika sudah meninggal, penghormatan tetap harus dilakukan. Sesuai dengan Sigalovada Sutta. Yaitu salah satu bagian sabda Buddha dalam kitab Tripitaka. Berisi tentang etika dalam masyarakat serta ajaran kebaikan sesuai tuntunan dharma.

Dalam sutta tersebut disebutkan bahwa Sang Buddha memberi wejangan pada seorang pria bernama Sigala tentang pentingnya puja bakti bagi kedua orang tuanya. Ayah Sigala sebelum meninggal berpesan padanya untuk menghormati enam penjuru mata angin. Kemudian Sang Buddha menjelaskan keenam penjuru tersebut:

Ibu dan ayah adalah arah timur. Guru-guru adalah arah selatan. Istri dan anak-anak adalah arah barat. Sahabat-sahabat serta sanak kerabat adalah arah utara. Para pelayan dan pekerja adalah arah bawah. Arah atas adalah para pertapa dan brahmana. Semua arah ini harus disembah oleh seorang yang baik, bijaksana, disiplin, cerdas, rendah hati, bebas dari keangkuhan. Seorang yang demikian akan mendapatkan keuntungan.

Begitulah kutipan sabda Buddha dari Sigalovada Sutta. Bahwa seseorang harus menghormati orang tua sebagai leluhur dan akar pemberi kehidupan. "Maka Cengbeng adalah tradisi yang tak bertentangan dengan ajaran Buddha. Justru sesuai dengan sabda-Nya," ujar ayah satu anak itu. Tak berapa lama umat mulai berdatangan. Termasuk Romo Purwohadi Kahar, salah satu pemimpin peribadatan Ceng Beng. Pukul sembilan pagi kegiatan dimulai.

Bersambung...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *