Cengbeng, Tradisi Warga Tionghoa Ziarah Makam Leluhur (2)

Dalam peribadatan Cengbeng, masyarakat Tionghoa dapat berziarah ke makam leluhur. Namun jika seseorang tak mengetahui lokasi makam leluhurnya, dapat memanjatkan doa di rumah atau di rumah ibadah. Seperti yang dilakukan oleh penganut Buddha Mahayana yang tergabung dalam Perkumpulan Doa Bersama (PDB) Lotus, di Jalan Pandegiling, Surabaya.

Pukul sembilan pagi, bagian timur bangunan PDB Lotus telah tersaji beberapa piranti ibadah serta makanan dan minuman yang dipersembahkan untuk leluhur. Di atas meja yang dijajar memanjang, persembahan tersebut juga ditujukan bagi semua mahluk dan alam semesta beserta isinya.

Asap dupa mengepul. Altar Dewa-dewi di ruang tengah PDB Lotus pun tersaji piranti yang sama. Setelah persiapan usai, mereka melangsungkan ritual Cengbeng atau peribadatan leluhur. Sebenarnya pada momen yang tahun ini diadakan tanggal 5 April, masyarakat biasanya berziarah ke makam leluhur masing-masing. Namun bila tak mengetahui lokasi makam leluhur, bisa mengikuti peribadatan bersama seperti yang dilakukan di dalam Lotus.

"Kami membantu saudara-saudari yang tak mengetahui lokasi makam leluhurnya," ujar Hanadi Soehardjo Hartono yang akan memimpin peribadatan. Selain itu berupaya pula untuk membantu umat yang kurang mampu. "Kalau mau menyumbang boleh. Hanya dua ribu rupiah saja. Tidak menyumbang pun tidak apa-apa. Intinya apa yang kami lakukan ini murni untuk semua umat," tambahnya.

Upacara awal, Hanadi memerciki semua piranti persembahan dengan air suci. Di belakangnya seorang umat membawa lonceng. Bagi umat Buddha, bunyi lonceng bermakna sebagai penanda waktu beribadah. Bunyi lonceng juga dapat menentramkan hati manusia dan dipercaya dapat membangkitkan energi kebijaksanaan dan kasih sayang dalam diri.

Memulai tradisi Cengbeng di PDB Lotus

Satu persatu umat berbaris dan bergantian menghaturkan doa di hadapan meja sajian. Untuk leluhur, juga untuk alam semesta beserta isinya. Paling utama adalah doa "Pelimpahan Jasa", atau dalam bahasa Pali dikenal dengan sebutan "Pattidana". Yakni salah satu bagian dari sepuluh perbuatan baik atau Dasa Puññakiriyavatthu.

Pattidana dapat diterjemahkan sebagai persembahan kebajikan atau persembahan jasa kepada leluhur. Sebagai bentuk dari rasa bakti dan hormat (katannukatavedi) kepada mendiang orang tua, sanak keluarga, leluhur yang telah meninggal dunia. Baik pada kehidupan sekarang atau kehidupan sebelumnya.

Orang yang telah berpulang memiliki hubungan karma (kammabandhu) serta memiliki jasa yang sangat berarti dalam hidup seseorang. "Apa yang ada dan terjadi dalam diri kita tidak terlepas dari jasa-jasa kebajikan para leluhur, terutama orang tua." ujar Hanadi usai peribadatan Cengbeng.

Namun sebelum doa Pelimpahan Jasa, seseorang harus terlebih dahulu melakukan kebajikan atau perbuatan baik. Jasa dari perbuatan tersebut selanjutnya dilimpahkan kepada para mendiang. Dalam doa, selalu teriring harapan, “Semoga kebajikan yang saya lakukan ini dapat turut dirasakan dan dinikmati leluhur, keluarga dan semua makhluk yang memiliki hubungan karma di mana pun mereka berada”.

Doa Pelimpahan Jasa dapat didengar oleh para leluhur, utamanya bagi mereka yang berada di alam penderitaan. Arwah leluhur tentu akan merasa bahagia berkat doa tersebut. Karena jasa perbuatan baik dari mereka yang masih hidup telah dilimpahkan padanya. Sehingga dapat menuntunnya untuk terlahir kembali ke alam yang lebih mulia.

Lantas apakah dengan ber-Pattidana, kebaikan yang telah dilakukan seseorang menjadi sirna karena telah dilimpahkan? "Tentu saja tidak. Justru akan menambah perbuatan baik kita. Kami umat Buddha mengenal hukum karma. Perbuatan apapun yang kita lakukan, itulah yang akan kita warisi dan bawa hingga ke kehidupan selanjutnya," ujar ayah satu anak itu. Pelimpahan Jasa merupakan upaya untuk membahagiakan leluhur.

Jika terdapat salah satu leluhur yang terlahir di alam nestapa, misalnya, dengan di-Pattidana terus-menerus, maka kehidupannya akan diselimuti oleh karma baik. Semakin banyak timbunan jasa kebajikan, setelah leluhur meninggal di alam tersebut, pada kehidupan selanjutnya ia akan terlahir di alam yang lebih baik.

Piranti Cengbeng

Maka dalam doa pelimpahan jasa, umat Buddha selalu mengucap kalimat berikut: Semoga dengan kebajikan yang telah saya lakukan pada hari ini dapatlah memberikan kebahagiaan kepada mendiang (menyebut nama mendiang), sesuai dengan kondisi kammanya. Semoga mendiang berbahagia, semoga semua makhluk berbahagia. Sadhu, Sadhu, Sadhu.

Pelimpahan jasa juga boleh ditujukan untuk beberapa nama atau untuk seluruh leluhur. Dalam tradisi Cengbeng, baik mereka yang berziarah ke makam atau berdoa bersama seperti umat Buddha dalam PDB Lotus, selalu menghaturkan doa tersebut.

Setelah bergantian beribadah, beberapa orang mengusung piranti-piranti upacara. Yakni kertas kim cua, yin jua, beberapa replika emas dan logam batangan, kertas wang sen cou, replika rumah megah, pakaian, sepatu dan barang-barang lainnya yang diletakkan dalam sebuah koper.

Semuanya dibawa dan diletakkan di halaman depan PDB Lotus. Saling berjajar. Kemudian Hanadi kembali memercikkan air suci. Gema lonceng masih terus berbunyi. Suasana hening dan khusyuk. Bagi umat Buddha, Cengbeng adalah tradisi yang bukan menjadi bagian dalam agama Buddha. Namun tradisi tersebut sama sekali tak menyalahi aturan, karena Sang Buddha justru menyarankan manusia untuk menghormati orang tua dan leluhur.

Seperti sabda Sang Buddha dalam Sutta-Tirokudda sebagai berikut: Bagaikan sungai, bila airnya penuh dapat mengalir ke laut. Demikian pula persembahan yang diberikan dapat menolong arwah dari sanak keluarga yang telah meninggal dunia.

Tak lama beberapa umat mulai membakar piranti-piranti persembahan itu di halaman depan Lotus. Asap membubung tinggi. Semua bagian memiliki maknanya masing-masing. Dipercaya sebagai "Bekal" arwah leluhur dalam alam akhirat. Semua umat mengatupkan tangan, memejamkan mata sembari berdoa. Cengbeng adalah tradisi yang membuat siapapun tak pernah melupakan leluhur sebagai akar dari keberadaan mereka.

Bersambung...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *