Cengbeng, Tradisi Masyarakat Tionghoa Ziarahi Makam Leluhur (3-Habis)

Tradisi Cengbeng memiliki berbagai tata cara yang masing-masing memiliki makna. Termasuk persembahan berupa kertas kim cua, buah-buahan dan sebagainya. Selain itu ketika berziarah, warga Tionghoa membersihkan makam leluhur. Makam yang bersih membawa ketenangan pula bagi arwah almarhum di alamnya.

 

Hujan gerimis di musim kecerahan murni
Hatiku terasa berat. Seorang pengelana dalam kembara.
Ketika kutanya di mana bisa kutemui kedai
Gembala menunjuk jauh ke Desa Aprikot Berbunga.

 

Itulah terjemahan dari puisi Tang berjudul Musim Kecerahan Murni. Masyarakat Tionghoa memaknainya sebagai puisi yang berkisah tentang hari Cengbeng. Orang-orang pergi ke makam leluhur untuk berdoa, memberi persembahan dan membersihkan makam.

 

Mencabut ilalang yang tumbuh di tanah makam. Membersihkan segala kotoran dan jika ditemukan bagian makam yang retak atau terkelupas, mereka harus segera memperbaikinya. Setelah itu jika menilik kebiasaan asli Tiongkok, usai melakukan Cengbeng, tanah makam akan ditandai dengan ranting pohon willow. Sebagai tanda bahwa makam itu masih diperhatikan.

 

"Ada juga kertas lima warna yang diletakkan di bagian bawah nisan. Melambangkan 5 unsur. Pada bagian atasnya diberi batu sebagai pemberat. Sebagai penanda bahwa makam itu telah diziarahi," ujar Hariyanto Djajanegara, pakar Fengshui dari Kelenteng Sam Poo Tay Djien, Surabaya.

 

Semua makam Tionghoa memiliki nisan. Disebut sebagai "Plakat Leluhur". Pada makam-makam kuno, plakat leluhur biasanya terbuat dari kayu. Maka memiliki nama lain "Tuan Kayu". Jika tubuh jenazah dikremasi, warga Tionghoa meletakkan plakat leluhur berisi nama mendiang dalam salah satu sudut khusus di rumahnya. Biasanya diletakkan berjajar di belakang altar pemujaan.

 

Masyarakat Tionghoa meyakini bahwa jika seseorang meninggal, jiwanya naik ke atas langit. Sedangkan tubuhnya masih ada di bumi. Mereka yang masih hidup masih bisa berkomunikasi dan meminta berkat pada jiwa tersebut. Asalkan terdapat tempat persemayaman bagi jiwa itu. "Plakat leluhur itulah tempatnya. Penandanya. Mereka yang bertugas mengurus plakat mendiang adalah anak tertua atau cucu tertua," ungkapnya.

 

Hal itu dilakukan pula oleh Haryanto bersama kerabatnya di Adi Jasa, Surabaya. Beberapa kerabatnya yang lain berziarah di Makam Sentong Lama, Lawang. Sama seperti Hanadi Soehardjo Hartono, umat Buddha Mahayana dari Perkumpulan Doa Bersama Lotus, Surabaya, yang mengunjungi makam orang tuanya di sana. "Kami bertiga sudah mengunjungi makam orang tua. Tahun ini kami beri persembahan dan kami bersihkan. Rencananya tahun depan akan dilakukan renovasi," ungkap Hanadi.

 

Tradisi khas lainnya adalah dengan membakar kertas kim cua, gin cua, wang shen cua yang dirangkai dan dibentuk menjadi replika rumah-rumahan, pakaian, sepatu dan semua keperluan untuk bekal leluhur di alamnya. Sehingga di alamnya tersebut, arwah akan hidup serba berkecukupan. Namun beberapa masyarakat Tionghoa masa kini ada yang memercayainya, ada yang tidak. Tapi sebagai tradisi, sebagian besar tetap melaksanakannya sebagai upaya melestarikan warisan nenek moyang.

 

Hanadi Soehardjo Hartono saat prosesi cengbeng di Lotus

 

Era Tiongkok Kuno, kertas kim cua berbentuk uang-uangan biasanya disebar saat upacara mengiringi jenazah menuju tempat pemakaman. "Secara logika, agar rombongan di belakang yang jalannya lebih lambat tidak sampai tertinggal. Karena mereka masih bisa mengikuti jejak sebaran kim cua tersebut," ungkap Haryanto.

 

Terdapat kisah menarik dari khasanah sastra Tiongkok Kuno di balik penggunaan piranti kertas. Bermula dari cendekiawan Tiongkok bernama You. Ia menemukan formula membuat kertas sebagai sarana alternatif untuk menulis. Karena zaman itu masyarakat masing asing dengan penggunaan kertas, You tak bisa menjualnya. "Lantas You bersandiwara. Ia pura-pura meninggal. Ketika banyak orang datang, istrinya bersedih. Keluarganya tak punya apa-apa untuk diikutsertakan dalam peti mati suaminya. Maka dia membakar kertas-kertas itu sembari berdoa," tutur pria 62 tahun itu.

 

Ketika asap dari pembakaran kertas mengepul, You tiba-tiba bangun. Hidup lagi. Sontak, semua yang hadir terkejut. You berkata pada orang-orang itu: Kertas yang dibakar istriku berubah menjadi emas di akhirat. Itulah sebabnya Dewa Kematian menyuruhku kembali karena dosa-dosaku telah ditebus menggunakan emas itu.

 

Tradisi ketika itu, kerabat orang yang telah meninggal dunia turut memasukkan emas dan barang-barang kesukaan mendiang semasa hidup ke dalam peti mati. You yang seolah kembali dari akhirat meyakinkan semua orang bahwa emas yang asli tak bernilai di alam baka. Justru kertas yang dapat membuatnya hidup lagi. Maka saat itulah kertas digunakan untuk menggantikan benda-benda asli yang harganya mahal.

 

Kisah cendekiawan You itu merupakan salah satu mitos yang lestari di Tiongkok. "Terlepas dari benar tidaknya, yang jelas dengan menggunakan kertas, orang yang kurang mampu pun dapat menyelenggarakan pemakaman untuk kerabatnya yang meninggal," terang alumnus Arsitektur UK Petra itu.

 

Anuraga Taniwidjaja, tokoh Konghucu dari Kelenteng Boen Bio, Surabaya, menyelenggarakan Cengbeng di rumah kerabatnya. Di sana ia bersembahyang pada leluhur dengan menyajikan berbagai persembahan yang disesuaikan dengan kegemaran leluhur semasa hidup. "Ada buah, manisan, nasi, sayur, lauk. Sesuai kegemaran mendiang," ungkapnya.

 

Sebuah makam Tionghoa. Diziarahi ketika Cengbeng

 

Persembahan-persembahan itu juga memiliki makna sebagai tanda keterikatan antara mereka yang masih hidup dengan leluhur. "Kita jangan pernah lupa bahwa para mendiang adalah akar kehidupan kita saat ini. "Melayani" mereka adalah kewajiban sebagai tanda bakti," ujarnya.

 

Begitu pula tokoh Konghucu Liem Tiong Yang. Pada peribadatan Cengbeng 5 April lalu, ia berziarah ke makam Asri Abadi, Lawang. Berdoa pada leluhur sekaligus meninjau kondisi makam. "Satu hal yang pasti ada dalam tradisi Cengbeng adalah penggunaan dupa," ujarnya.

 

Dupa melambangkan kehidupan manusia. Dupa yang terus menyala pasti akan habis kemudian mati. Namun sekalipun mati, wanginya masih tertinggal dan dapat dihirup. Begitu pun manusia. Manusia memiliki daya hidup yang lambat laun akan redup dan meninggal. Seorang manusia apabila memiliki amal baik, berkontribusi bagi masyarakat serta menjadi teladan, maka meski ia tiada, kenangan tentangnya takkan terlupa.

 

"Leluhur kita pun seperti itu. Perbuatan baik mereka yang tertanam dalam diri adalah wangi yang tak pernah pudar dan senantiasa diingat. Maka bagi kami umat Konghucu, berdoa sebagai bakti terhadap leluhur adalah kewajiban," ujarnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *