Mengenal Ciamsi Sam Poo Kong dan Mbah Ratu (1)

- Kelenteng Sam Poo Sing Bio, Surabaya, punya Metode Ciamsi -

 

Kelenteng Sam Poo Sing Bio atau Sam Poo Tay Djien, selain dikenal sebagai tempat ibadah Tri Dharma, juga dikenal sebagai cagar budaya. Kelenteng tersebut memiliki Dewa utama, yakni Sam Poo Tay Djien atau Sam Poo Kong. Tak banyak orang tahu bahwa kelenteng tersebut juga memiliki metode meramal ciamsi yang dapat diikuti siapa saja.

 

Pada Jumat 8 April lalu, Kelenteng Sam Poo Sing Bio yang terletak di Jalan Demak, Morokrembngan, Surabaya, dipenuhi oleh para pengurus kelenteng. Siang itu pukul dua belas diselenggarakan pemilihan ketua kelenteng yang baru. Tiga calon ketua dipilih melalui voting. Hasilnya, ketua sebelumnya, Hartadi Tanu Wijaya terpilih kembali sebagai ketua pengurus Kelenteng Sam Poo Sing Bio.

 

Sebagai ketua terpilih, dalam masa jabatan periode kedua ini Hartadi akan banyak menyelenggarakan kegiatan-kegiatan bakti sosial sekaligus mengadakan forum-forum diskusi dengan berbagai pihak, terkait sejarah kelenteng tersebut. "Kelenteng Sam Poo Sing Bio juga merupakan ikon Kota Surabaya. Banyak yang bisa digali dari kelenteng ini. Termasuk adanya peninggalan Laksamana Cheng Ho dan lain-lain," ungkapnya.

 

Laksamana Cheng Hoo konon pernah mendarat di Pelabuhan Surabaya. Karena ketegasan dan kebijaksanaannya, pelaut muslim asal Tiongkok tersebut berperan penting dalam pelestarian kebudayaan Tionghoa di beberapa daerah di Indonesia. Terutama Kota Pahlawan. Masyarakat setempat menyebutnya sebagai "Mbah Ratu". Sebutan itu melekat pula dalam Kelenteng Sam Poo Sing Bio yang kerap disebut sebagai "Kelenteng Mbah Ratu".

 

Siang itu tampak pula suhu Hariyanto Djajanegara, pakar fengshui yang kerap membuka konsultasi di kelenteng Sam Poo Sing Bio. Bersama Hartadi ia menunjukkan keunikan kelenteng tua tersebut, termasuk menunjukkan potongan kayu yang konon merupakan potongan kapal Laksamana Cheng Ho. "Di sini orang juga kerap memanfaatkan ramalan ciamsi. Ada dua ciamsi-nya dan dua kegunaan," ungkapnya.

 

Ciamsi adalah ramalan berusia ribuan tahun dari dataran Tiongkok. Ciamsi berarti puluhan gulungan kertas berisi syair-syair. Jika diterjemahkan dan dimaknai, akan menggambarkan keadaan manusia saat ini dan prediksi yang akan terjadi pada masa depan. “Praktiknya menggunakan ciam atau batang bambu. Kemudian pemohon ciamsi melakukan kiu ciam atau memohon pada ciam,” ungkap Haryanto.

 

Memohon pada ciam bukan berarti secara harafiah memohon pada bilah-bilah bambu. Namun memohon petunjuk kepada Dewa yang bersangkutan melalui perantaraan ciam tersebut. Tiap Dewa memiliki ciamsi-nya masing-masing. Seperti Kelenteng Sam Poo Sing Bio yang memiliki ciamsi Dewa Sam Poo Kong dan Mbah Ratu atau laksamana Cheng Ho.

 

Bilah-bilah bambu "Ciam" dalam altar Sam Poo Tay Djien, Sam Poo Sing Bio, Surabaya

 

Kelenteng lain dan Dewa utama yang dipuja, tak jarang memiliki ciamsinya pula. Seperti Perkumpulan Doa Bersama Lotus di Pandegiling, Surabaya, yang memiliki metode ciamsi Dewi Kuan Im.

 

Piranti lainnya adalah dua bilah kayu poapoe. Penggunaan poapoe telah dilakukan masyarakat Tiongkok sejak ribuan tahun lalu. Bedanya, dulu menggunakan cangkang kerang. "Sekarang menggunakan kayu. Penggunaannya dilempar. Kalau memakai cangkang kerang khawatir pecah," ungkap pakar fengshui 62 tahun itu.

 

Sebutan "Poapoe" berasal dari dialek Minnan, artinya menarik atau memutar kerang. Catatan Jingchu Sui Shi Ji, kitab yang ditulis pada zaman Dinasti Song, menyebut bahwa para petani Tiongkok menggunakan metode poapoe untuk meramal hasil panen mereka.

 

Sebelum mengetahui prediksi ciamsi, penggunanya harus melemparkan dua bilah kayu poapoe terlebih dahulu. Untuk mengetahui apakah permohonannya diterima, ditertawakan atau ditolak. Susanto, salah satu pengurus Kelenteng Sam Poo Sing Bio menyebut bahwa probabilitas itu terjadi berdasarkan konsep Yinyang atau keharmonisan dalam falsafah Tiongkok.

 

"Bila kedua ujungnya menelungkup, berarti ditolak. Jika keduanya terbuka, berarti ditertawakan oleh Dewa yang bersangkutan. Tapi jika salah satu menelungkup dan satunya terbuka, berarti diterima," ungkapnya. Menolak bukan berarti Sang Dewa enggan mengabulkan permintaan umatnya. "Namun dalam arti lain, Dewa itu tahu bahwa umatnya sebenarnya bisa mencari jawaban atas permohonannya," tambahnya.

 

Ditertawakan bukan berarti mengejek. Melainkan penolakan secara halus. Sama seperti hasil ketika dua bilah poapoe menelungkup. Yakni sebenarnya pemohon dapat menemukan jawabannya sendiri. "Tapi jika satu menelungkup dan satu terbuka, berarti masalah pemohon atau umat memang membutuhkan jawaban dari metode ciamsi," ungkap Haryanto.

 

Dalam Kelenteng Sam Poo Sing Bio, sarana ramalan ciamsi terdapat di dua tempat. Yakni di halaman kelenteng. Dikenal sebagai "Ciamsi Mbah Ratu". Gunanya untuk meramal nasib. Hasil ramalan tertulis pada potongan-potongan kertas yang terdapat dalam laci panjang. Sedangkan sarana ciamsi kedua terletak di ruang utama kelenteng. Bilah-bilah bambu terdapat dalam meja altar Dewa Sam Poo Kong. Potongan-potongan kertas hasil dari ramalan terletak di laci besar dua tingkat di samping pintu masuk ruang utama.

 

Ciamsi Sam Poo Kong berguna untuk mengetahui ramalan nasib dan kesehatan. Hasil dari ramalan nasib terdapat di laci atas, Sedangkan ramalan kesehatan terdapat di laci bawah. Salah satu umat Kelenteng Sam Poo Sing Bio yang telah sepuh terlihat sedang melakukan ramalan ciamsi. Tahap awalnya, ia melakukan penghormatan di hadapan altar Sam Poo Kong.

 

Kemudian, pria itu melempar poapoe. Hasilnya satu menelungkup dan satu terbuka. Lantas ia mengambil bilah-bilah bambu dalam altar Dewa Sam Poo Kong. Terdapat dua wadah bilah bambu. Satu bertuliskan "Nasib", satu bertuliskan "Obat". Umat yang tak bersedia disebutkan identitasnya itu memilih "Obat". Gunanya untuk mengetahui penyakit yang dideritanya.

 

Mengambil kertas hasil Ciamsi di laci kelenteng

Setelah itu ia memutar wadah bilah bambu tersebut. Menggoyangnya dengan kencang sehingga satu bilah bambu terlempar keluar. Bilah yang jatuh itu dipungut, kemudian dibaca nomor yang tertera di bagian atas bambu. Setelah diketahui, pria sepuh itu beranjak ke laci samping pintu altar dan mencari ruangan laci sesuai nomor yang didapatnya. Ketika ditemukan, ia mengambil kertas dan membacanya. "Oh, ya benar. Saya sedikit ada keluhan di punggung," bisiknya.

 

Terdapat tulisan di kedua sisi kertas itu. Satu keterangan sakitnya dalam bahasa Indonesia, sisi lainnya adalah aksara Mandarin. "Artinya keterangan tentang obatnya, atau resepnya. Jadi kertas itu dibawa oleh umat, kemudian diserahkan ke toko obat Tionghoa. Misalnya di daerah Jagalan. Mereka mengerti arti resep itu dan menyerahkannya pada umat tersebut," ungkap Hariyanto.

 

Konon, ciamsi Sam Poo Kong yang ada dalam Kelenteng Sam Poo Sing Bio didapatkan dari Kelenteng Sam Poo Kong, Semarang. Semua piranti ciamsi yang ada di sana, termasuk kertas ciamsi adalah salinan dari Semarang.

 

Bersambung...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *