Panji Sakti Rilis Album “Tanpa Aku”

Musisi Panji Sakti kembali merilis albumnya. Tetap mengusung nuansa spiritual. Mengilhami kedekatan antara diri dengan Tuhan, memaknai berbagai hal dalam kehidupan dan menggugah siapa saja bahwa semua terjadi karena kehendak-Nya. Album terbarunya berjudul "Tanpa Aku". Berisi sepuluh single.

 

Panji Sakti. Namanya cukup tenar di kalangan musisi indie. Termasuk bagi penggemar musik bernuansa akustik open string dengan tema-tema filosofis. Lagu-lagunya lirih mendayu dan tak terlalu banyak menggunakan instrumen pengiring lainnya. Dominan gitar akustik dengan warna vokalnya yang lembut.

 

Bagi Panji, kuncinya adalah kesederhanaan. Ia tak segan bergaul dengan siapa saja. Mulai dari kaum muda hingga mendatangi berbagai komunitas. Puluhan acara diikutinya, tak peduli besar kecil. Ia pernah bergabung dengan major label Sony Music, lantas tercatat sebagai penulis lagu dalam naungan Sony Music Publishers/ATV. Tapi pribadinya tak seperti artis jebolan major label lain yang glamour, ngartis dan hanya mau konser di panggung-panggung besar.

 

Lirik dalam lagu-lagu Panji memiliki bait dan rima seperti lazimnya struktur puisi. Sebagian besar karya musiknya tercipta setelah ia menciptakan liriknya. "Biasanya kalau menciptakan lagu berawal dari nadanya dulu. Mempersiapkan bagian-bagian verse, reffrain dan chorus. Kemudian liriknya menyusul. Kalau saya cenderung liriknya dulu," ungkap Panji.

 

Panji Sakti, Sang Penggugah

 

Seperti single "Tanpa Aku" dalam album terbarunya yang berjudul sama. Ia menciptakan lagu tersebut pada 2019. Tepatnya pada bulan Ramadan. "Suatu sore saya terlibat pertengkaran ringan dengan istri saya, entah apa yang kami perdebatkan, lupa. Kemudian saya memilih tidur lebih awal," kenangnya.

 

Pukul dua belas malam, Panji tiba-tiba terbangun. Ia menggenggam ponsel dan membopong gitar akustiknya. Pergi ke ruang tengah rumahnya, mengambil kertas kemudian menulis lirik. "Nadanya secara spontan mengalun di pikiran saya. Tiga bait syair saya tuliskan malam itu. Lalu saya beri judul Tanpa Aku," ujar musisi kelahiran Bandung, 13 Januari 1976 itu.

 

Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Mu
Bawa aku menuju jalan-jalan ke arah-Mu
Demi kekeringan yang melanda kampung halamanku
Beri aku benih yang tumbuh di jari manis-Mu

 

Bantu aku mencintai jalan pulang
Demi bertemu dengan-Mu Lumbung Keabadian
Bantu aku merindukan-Mu
Tanpa apa tanpa aku hanya Engkau

 

Itulah potongan syair "Tanpa Aku" karya Panji sakti. Lagu tersebut telah diunggah dalam akun YouTube pribadinya, "Panji Sakti" dan telah beredar di platform-platform musik lainnya.

 

Melalui Tanpa Aku, Panji menggambarkan proses spiritualitasnya yang sedang belajar meniadakan ke-aku-an pada dirinya. Hal itu dipelajarinya setelah sekian lama mengikuti kajian-kajian sufistik. 
Tanpa Aku adalah judul yang cukup sederhana dan ringan. Namun sejatinya merupakan gambaran cita-cita tertinggi para sufi.

 

Bahwa jika diri telah sesuai dengan kehendak Tuhan, maka diri adalah kosong. Terbebas dari segala keinginan dan nafsu duniawi. Diri menjadi wadah yang siap untuk menerima kehendak-Nya. "Jika telah bisa mencapai pencerahan itu, manusia akan sepenuhnya disebut sebagai "Hamba Tuhan". Apa yang Tuhan kehendaki, manusia akan melaksanakannya," ungkap salah satu member Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) itu.

 

"Tanpa Aku" adalah sebuah proses dan tentu mencapai tingkatan tersebut butuh waktu panjang dan proses yang tak mudah. Ketika seseorang hamba diberi bakat tertentu seperti menciptakan lagu, maka hamba tersebut sedapat mungkin akan menggunakan bakat pemberian Tuhan itu bukan untuk bicara bukan tentang dirinya, melainkan tentang Tuhan, yang boleh saja disamarkan dalam bentuk dan kata apapun. 

 

Cover album "Tanpa Aku" Panji Sakti

 

Album tersebut adalah album solo kedua Panji, setelah pada 2020 silam ia merilis album perdana bertajuk "Panji Sakti". Selama ini, selain dikenal sebagai solois, Panji juga kerap membuat lagu untuk dinyanyikan musisi-musisi dalam negeri maupun luar negeri. Terutama musisi Malaysia dan Singapura.

 

Ia sempat didapuk sebagai song creator di K.R.U, sebuah publishing di Malaysia. Karyanya yang berjudul Jiwaku Sekuntum Bunga Kamboja, misalnya, menjadi original soundtrack sinetron populer di Malaysia.

 

“2005 saya bekerja di K.R.U, kemudian pada 2009 pindah ke Sony Music. Dari situlah banyak lagu saya mulai diperhatikan. Saya pun tak lagi sekedar pencipta lagu, namun mulai dikenal sebagai penyangga,” ujar musisi yang pada 2013 pernah meraih "Anugerah Planet Muzik" Singapura, dengan single-nya berjudul "Jangan Ganggu Pacarku" yang dinyanyikan oleh musisi Aliff Aziz tersebut.

 

Awalnya, Panji membuat tujuh lagu dalam format demo dan diedarkan sendiri. Ketika itu ia tak pernah berpikir bahwa karyanya dapat menarik minat Sony Music karena kuatnya pandangan label tersebut terhadap arus selera pasar. Tak dinyana, lagu-lagu Panji disambut positif oleh para pecinta musik. Tujuh lagu itu akhirnya dilirik dan disetujui untuk didibustrikan oleh Sony Music . Dua lagu ditambahkan, total menjadi sepuluh single dalam album perdananya.

 

Saat itulah nama Panji semakin berkibar di belantika musik. Ia mulai sering diundang tampil di berbagai tempat di Indonesia. Dalam album keduanya Tanpa Aku, Panji mengisi materi sepuluh single. Antara lain: Ruang Menuju, Malam Ini, Tanpa Aku, Wahai Air Mata yang Berlinang, Inti Lambung, Jiwaku Sekuntum Kamboja, Fragmen Perahu, Kepada Noor, Dia Danau dan Sangen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *