Mengenal Ciamsi Sam Poo Kong dan Mbah Ratu (2)

Dewa-Dewi Tiongkok selain dipuja, ternyata memiliki ciamsi-nya masing-masing. Ciamsi Sam Poo Tay Djien, yang terdapat di Kelenteng Sam Poo Sing Bio bukan merupakan karangan pengurus kelenteng atau leluhur pengurus tersebut. Pada masa lalu mereka mencarinya ke Kelenteng Sam Poo Tay Djien yang lebih tua. Yakni di Semarang.

 

Bilah-bilah bambu atau dikenal dengan sebutan ciam, berdiri dalam dua wadah. Diletakkan di sebelah tungku pedupaan yang berada di atas altar Sam Poo Tay Djien. Dewa perang dan kebijaksanaan dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, yang memiliki nama lain Sam Poo Kong.

 

Setiap hari selalu ada orang yang memanfaatkan ciamsi untuk mengetahui prediksi nasib dan kesehatannya. Setelah melempar poapoe dan menggoyangkan ciam untuk mendapatkan hasilnya, umat kelenteng berjalan ke arah laci berisi kertas-kertas petunjuk ciamsi. Mengambil satu kertas sesuai nomor yang tertera dalam bilah ciam lantas membacanya.

 

Ciamsi Sam Poo Tay Djien

 

Ciamsi Sam Poo Tay Djien bukan merupakan karangan pengurus kelenteng atau hasil imajinasi seseorang saja. "Kelenteng-kelenteng Sam Poo Tay Djien di Tiongkok juga punya ciamsi. Artinya sama. Ada puluhan kertas jawaban dan bilah-bilah ciam yang berjumlah sama pula," ungkap Susanto, salah satu pengurus Kelenteng Sam Poo Sing Bio.

 

Ketika Kelenteng Sam Poo Sing Bio didirikan dan menempatkan Dewa Sam Poo Tay Djien sebagai Dewa utama, maka jika ingin menempatkan ciamsi harus mengunjungi kelenteng Sam Poo Tay Djien lainnya yang memiliki ciamsi. "Konon menurut cerita para pendahulu, pengurus Kelenteng Sam Poo Sing Bio pergi ke Kelenteng Sam Poo Tay Djien di Semarang. Salah satu kelenteng tertua di sana," ungkapnya.

 

Dari Surabaya ke Kelenteng Sam Poo Tay Djien, Semarang, para pengurus terdahulu dari kelenteng Sam Poo Sing Bio menemui pengurus kelenteng di Semarang untuk melihat ciamsi. Kemudian, mereka mencatatnya satu persatu, lantas membuat salinannya.
Salinan kertas ciamsi tersebut dibawa ke Surabaya. Kemudian mulai membuat replika bambu-bambu atau ciam. Ketika selesai, didoakan, disucikan, kemudian diletakkan di dalam kelenteng dan telah siap untuk digunakan. Pengurus Kelenteng Sam Poo Tay Djien di Surabaya juga membuat laci besar untuk menempatkan kertas-kertas jawaban ciamsi.

 

Salah satu umat kelenteng yang juga ahli fengshui, Hariyanto Djajanegara, menyebut bahwa Kelenteng Sam Poo Tay Djien di Semarang pasti melakukan hal yang sama dengan Kelenteng Sam Poo Sing Bio. "Mereka pergi ke Tiongkok, mencari Kelenteng Sam Poo Tay Djien, kemudian menulis salinannya," ungkap pria 62 tahun itu.

 

Masyarakat Tionghoa di Surabaya kerap memanfaatkan ciamsi untuk mengetahui nasib dan kesehatannya. Paling sering tentu memohon ciamsi pada Dewa Sam Poo Tay Djien. Tapi uniknya, Kelenteng Sam Poo Sing Bio memiliki ciamsi lain. Yakni ciamsi Mbah Ratu.

 

Letak piranti ciamsi Mbah Ratu berada di halaman depan kelenteng. Di samping altar Tuhan. Kotak besar berwarna merah dengan dua wadah berisi bambu-bambu ciam di atasnya. Kotak tersebut jika dilihat dari belakang merupakan laci. Isinya berisi kertas-kertas jawaban ciamsi.

 

Hartadi Tanu Wijaya, ketua pengurus kelenteng Sam Poo Tay Djien yang terpilih kembali untuk memimpin pada 9 April lalu, menyebut bahwa ciamsi Mbah Ratu adalah keistimewaan dari Kelenteng Sam Poo Sing Bio. "Mbah Ratu kan sebutan lain untuk Laksamana Cheng Ho. Beliau pelaut muslim dari Dataran Tiongkok. Pergi ke Nusantara dan sempat singgah di Surabaya," ungkapnya.

 

Laksamana Cheng Ho merupakan penjelajah Tiongkok yang berlayar dan mengembara selama 28 tahun. Ia dikenal sebagai muslim taat, berasal dari Suku Hui di Tiongkok yang mayoritas Islam. Di Indonesia, Cheng Ho mendatangi beberapa tempat seperti Semarang dan Surabaya. Selain membawa misi politik negaranya, ia juga menyebarkan budaya Tionghoa dan agama Islam.

 

Maka wajar jika Presiden ketiga Indonesia, BJ Habibie, menyebut bahwa Islam adalah warisan terbesar bangsa Tionghoa di indonesia. Peran Cheng Ho yang sangat dihormati karena ketegasan dan kebijaksanaannya, membuat masyarakat Surabaya menyebutnya "Mbah Ratu". Sebutan itu melekat pula sebagai nama lain Kelenteng Sam Poo Sing Bio. Yakni "Kelenteng Mbah Ratu". Karena dalam kelenteng tersebut terdapat peninggalan Cheng Ho berupa potongan kayu kapal yang diletakkan dalam ruang berbingkai kaca tebal.

 

Jika ciamsi Sam Poo Tay Djien dicari melalui kelenteng serupa di Semarang, dan yang di Semarang mencari langsung ke Tiongkok, lantas bagaimana dengan ciamsi Mbah Ratu? Mungkinkah mencari Kelenteng Cheng Ho? Karena sejauh ini tidak pernah ditemukan Kelenteng Cheng Ho.

 

Letak ciamsi "Mbah Ratu"


 

Sejauh ini di Surabaya hanya ada Masjid Cheng Ho. Karena tokoh tersebut seorang muslim, maka rasanya tak ada kelenteng yang dibangun atas namanya. "Kami tidak tahu bagaimana cara pendahulu mendapatkan ciamsi Mbah Ratu itu. Tak ada keterangan apapun karena pendahulu kami tak mewariskan kisah di balik munculnya ciamsi Mbah Ratu. Bisa jadi ciamsi Mbah Ratu adalah satu-satunya ciamsi Cheng Ho yang ada di kelenteng ini," ujar Susanto.

 

Kemungkinan, pengurus kelenteng Sam Poo Sing Bio zaman dulu membuat perkiraan-perkiraan prediksi ciamsi melalui proses spiritual yang ketat. Sehingga apa yang disampaikan oleh jawaban yang tertera pada kertas ciamsi Mbah Ratu lumayan akurat. Sama halnya dengan ciamsi Sam Poo Tay Djien.

 

Namun ciamsi Mbah Ratu hanya memprediksi tentang nasib saja. Berbeda dengan ciamsi Sam Poo Tay Djien yang memiliki dua kegunaan. Pertama, untuk memprediksi nasib, kedua, untuk memprediksi kesehatan atau mengetahui penyakit seseorang berikut obatnya.

 

Dengan adanya prediksi membuat seseorang lebih waspada. Termasuk tentang kesehatan. Resep yang ditunjukkan oleh ciamsi Sam Poo Tay Djien berasal dari khasanah keilmuan pengobatan Tiongkok yang terkenal manjur.

 

Bersambung...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *