Mengenal Ciamsi Sam Poo Kong dan Mbah Ratu (3-Habis)

Di Kelenteng Sam Poo Sing Bio, Surabaya, terdapat dua ciamsi. Yakni ciamsi Sam Poo Kong dan ciamsi Mbah Ratu. Keduanya mampu memprediksi nasib manusia. Khusus untuk ciamsi Sam Poo Kong, dapat memperkirakan penyakit seseorang sekaligus mengetahui obatnya.

 

Laci besar yang terdapat di ruang utama depan altar Sam Poo Kong, dibagi dua petak. Satu berisi kertas-kertas untuk mengetahui ramalan nasib, satu untuk pengobatan. Orang yang ingin mengetahui prediksi tentang dirinya tak dapat langsung secara acak mengambil kertas tersebut. Melainkan harus melakukan pelemparan poapoe terlebih dahulu.

 

Seorang umat yang tak ingin disebutkan identitasnya, tampak penasaran untuk mencobanya. Maka, Haryanto Djajanegara, pakar fengshui Kelenteng Sam Poo Sing Bio dan Susanto, salah satu pengurus kelenteng, menunjukkan langkah-langkah melakukan ciamsi.

 

"Kalau anda umat Tri Dharma, bisa menghaturkan hormat dulu di hadapan patung Dewa Sam Poo Kong," saran Haryanto. Karena umat tersebut beragama Buddha, ia mengatupkan kedua tangan. Salam pai di atas kepala. Tanda penghormatan kepada Dewa.

 

Pengambilan kertas ciamsi

 

Jika tak menganut Tri Dharma, orang yang ingin ber-ciamsi tak dipaksa untuk melakukan penghormatan. Cukup melempar poapoe saja untuk mengetahui apakah permohonan ciamsi-nya disetujui, ditolak atau ditertawakan. Umat tersebut mengambil dua kayu poapoe, kembali melakukan salam pai di hadapan patung Sam Poo Kong, kemudian melemparnya.

 

Dua kayu sama-sama terbuka. "Wah, artinya ditertawakan. Maksudnya bukan diejek, tapi sebenarnya anda tahu sendiri jawaban atas permasalahan anda. Tapi jika ingin mengulang juga tidak apa-apa. Maksimal tiga kali," ujar Susanto. Umat tersebut melempar kembali poapoe tersebut. Hasilnya satu terbuka, satu tertelungkup. Disetujui.

 

Setelah itu ia mengambil wadah berisi bilah-bilah bambu atau ciam. Menggoyang-goyangkannya hingga terlontar sebilah bambu jatuh ke lantai. Ia mengambilnya, membaca nomor yang tertera di ujung bambu tersebut. "Saya dapat nomor lima," serunya. Haryanto menyuruhnya untuk pergi ke laci ciamsi Sam Poo Kong dan mengambil nomor yang tertera. Terdapat beberapa paragraf tulisan dalam kertas yang sedikit cokelat karena termakan usia tersebut:

 

1. Djalannya Djukung menurut angin, bepergian jangan kuatir / 2. Merasa untung justru temponya, menjalankan djukung di tepi sungai / 3. Sepuluh ribu pal punya perjalanannya, mesti tua sampainya / 4. Segala yang diharap menuruti, ujian yang dimaksud.

 

Karena bacaan yang tertera dalam kertas nomor lima tersebut berbentuk syair, tentu umat tersebut tak dapat menerka maknanya. "Begini, urusan koko itu lancar. Jukung atau perahunya berlayar menuruti angin. Sepuluh ribu pal, mesti tua sampainya berarti harus bersabar. Jangan berpikiran negatif. Istilahnya step by step. Ditekuni saja nanti bisa sukses," ungkap Haryanto. Yang bersangkutan mengangguk. "Ya memang saya sedang memulai usaha. Saya akan sabar. Tapi, kok bisa tepat, ya?," tanyanya. Semua pun tertawa. "Itulah keistimewaan ciamsi," tandas Susanto.

 

Kemudian umat tersebut ingin mengetahui tentang kesehatannya. Ia melakukan seperti yang dilakukan sebelumnya. Kayu poapoe dilempar dan langsung disetujui. Bilah bambu menunjuk angka 17. Ia pun mengambil kertas ciamsi dalam laci khusus kesehatan. Tertera di belakang kertas tersebut: Sakit kepala, mata kabur.

 

Contoh kertas ciamsi

 

"Betul. Keluhan saya sering pusing dan mata saya memang bermasalah," ujar umat tersebut. Kemudian ia membalik kertas itu dan menemukan aksara Mandarin. "Nah, itu resepnya. Koko bisa bawa itu ke toko obat Tionghoa di Jagalan. Mereka bisa baca aksara itu kok. Nanti dikasih obatnya," ujar Haryanto.

 

Namun karena aksara Mandarin yang tertera adalah resep kuno Tiongkok, kadang resep tersebut tak dapat ditemukan lagi. "Misalnya, ada resep yang bertuliskan obat berbahan hati beruang. Kan enggak mungkin ada. Cari obat dari hati beruang di mana? Tapi paling tidak oleh pengelola toko obat Tionghoa di Jagalan bisa dicarikan obat yang memiliki khasiat sama," ujar Susanto. Umat itu pun mengangguk dan menyimpan kertas ciamsi itu dalam dompetnya.

 

"Mau mencoba ciamsi Mbah Ratu juga?," tawar Haryanto pada umat tersebut. Ia setuju. Lantas melangkah menuju laci ciamsi Mbah Ratu yang berada di halaman kelenteng. Melempar dua bilah poapoe, disetujui, dan langsung menggoyangkan bilah-bilah bambu ciam. Hasilnya, nomor 28.

 

Tulisan yang tertera dalam ciamsi Mbah Ratu lebih panjang dan lebih lengkap daripada ciamsi Sam Poo Kong. Karena berisi syair, arti sekaligus maknanya. Jadi lebih mudah dipahami. Namun karena struktur kalimat masih menggunakan pola bahasa Indonesia lama, harus ada satu-dua yang diartikan dengan lebih seksama.

 

Berikut bunyi syairnya: Poros kereta dapat menahan 28 tempat duduk / Dalam pikiran tidak dirasakan kepuasan hati / Tak sepatah perkataan pun yang cocok / Kemudian hanya menggerutu sendiri.

 

"Artinya bisa dibaca: Harap tuan agak tenang, tetapi itu semua terserah pada kesabaran hati. Jadi harus tenang. Tidak boleh grusa-grusu dan berpikiran negatif. Mengalir saja, ko," ujar Haryanto. Pakar fengshui 62 tahun itu melanjutkan, "Baca bagian 'Maksud Tegasnya': perkara pengadilan tidak baik. Itu saja yang membawa ketidakberuntungan. Selebihnya, perkara uang baik. Kalau sakit bisa segera sembuh".

 

Maka umat tersebut dalam usahanya tahun ini sebisa mungkin menghindari upaya yang menyentuh ranah hukum. Karena hasilnya justru memberi kerugian baginya. Entah dapat kalah dalam perkara atau bisa membayar denda bahkan dipenjara karena masalah hukum itu.

 

Contoh kertas ciamsi no.5

 

Baik ciamsi Sam Poo Kong maupun Mbah Ratu, meski berbeda dalam syair, secara makna sama-sama memiliki kesamaan. "Asal pemohonnya fokus meminta. Jika asal-asalan, jawaban tak akan didapatkan. Bahkan kalau Dewa mengerti bahwa ada orang tidak serius, lempar poapoe saja bisa ditolak terus sampai tiga kali. Sungguh," ujarnya.

 

Kayu poapoe pun unik. Meski hasilnya hanya tiga jawaban dan probabilitasnya secara logika adalah acak, namun umat Kelenteng Sam Poo Sing Bio percaya bahwa disetujui tidaknya permohonan ciamsi merupakan keputusan langsung dari Dewa yang bersangkutan. Apakah pemohon betul-betul berniat atau cuma main-main.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *