Titimangsa: Panggil Aku Gombloh, Di Tepi Sejarah
Pementasan "Panggil Aku Gombloh" (credit foto: Yose Riandi)

Sosok Gombloh, musisi yang populer dengan lagu Kebyar-Kebyar, dipentaskan oleh Titimangsa Foundation di Gedung Kesenian Jakarta. Pementasan itu diselenggarakan dalam bentuk monolog bertajuk “Panggil Aku Gombloh”.

 

Ceking, kumis tak beraturan, bertopi, kacamata hitam dan baju kebesaran. Sosok Gombloh memang bersikeras untuk tampil ganteng. Meskipun jauh panggang dari api.

 

Langkahnya gontai. Penyakit paru-paru yang menggerogotinya sedari kecil membuat wajahnya menua. Lebih tua daripada pria sebayanya. Padahal usianya belum 40 tahun.

 

Tak banyak bicara, tapi sekali bicara ceplas-ceplos tanpa tedeng aling-aling. Suara lagu Kugadaikan Cintaku terdengar mengalun sayup perlahan. Gombloh mulai mengeluh. “Saya sering tak suka dengan karya saya sendiri. Tapi semua lagu punya nasibnya masing-masing. Seperti lagu itu (Menunjuk ke arah suara). Seketika langsung ngetop,” ujarnya.

 

Wanggie Hoed sebagai Gombloh (Credit: Yose Riandi)

 

Ia melanjutkan, “Aku enggak kepingin dikenang sebagai penyanyi lagu-lagu pop,” ujarnya. Lantas ia mengenang masa lalunya. Tentang bagaimana proses menggadaikan idealisme, punya berkarung-karung uang hingga meminang seorang gadis desa asal Blitar: Wiwiek Sugiharti.

ˆ

Gombloh ingin dikenang sebagai musisi yang mengobarkan semangat nasionalisme. Cinta terhadap lingkungan. Dekat dengan masyarakat kecil. “Itulah Gombloh sebenarnya. Gombloh yang selalu akrab dengan angin malam,” ungkapnya.

 

Kemudian ia membeberkan kisah awal penggodokan kreativitasnya di Bengkel Muda Surabaya. Ia bertemu kawan-kawan seniman seperti Leo Kristi, Naniel Yakin, Poerono Sambowo dan lain-lain. Tentang kisahnya membentuk Lemon Tree's anno ’69, perseteruannya dengan Leo Kristi dan kisah di balik pembuatan lagu Kebyar-Kebyar dan Berita Cuaca.

 

Itulah yang dipertontonkan oleh tokoh Gombloh, yang diperankan Wanggie Hoed, aktor kawakan asli Jawa Barat. Pementasan itu bertajuk “Panggil Aku Gombloh”. Naskahnya ditulis oleh Guruh Dimas Nugraha berdasarkan buku Gombloh: Revolusi Cinta dari Surabaya. Kemudian diinterpretasikan oleh sastrawan Agus Noor dan sutradara Joind Bayuwinanda.

 

Pementasan teater monolog Gombloh diproduksi oleh Titimangsa Foundation, yang dipimpin oleh artis Happy Salma. Tokoh Gombloh ada dalam deretan beberapa tokoh dalam serial Di Tepi Sejarah. Mulai dari Sjafruddin Prawiranegara, Kessian Cepas, Ismail Marzuki dan lain-lain. “Sejauh ini Sjafruddin Prawiranegara dan Kessian Cepas sudah dipentaskan sejak awal bulan ini. Gombloh merupakan tokoh ketiga,” ujar Trisfa Hilda Fauzi, pimpinan produksi pementasan Kacamata Sjafruddin dan Panggil Aku Gombloh.

 

Di Tepi Sejarah merupakan seri monolog yang bercerita tentang tokoh-tokoh yang ada di tepian sejarah. Tokoh yang mungkin tak pernah disebut namanya dan tak begitu disadari kehadirannya dalam narasi besar sejarah bangsa Indonesia. “Meski begitu, justru mereka adalah orang-orang yang berada dalam pusaran sejarah utama dan menjadi saksi peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Indonesia,” ujar Happy Salma, produser pementasan dan leader Titimangsa Foundation.

 

Lebih lanjut, melalui akun instagramnya Happy menyebut bahwa Gombloh merupakan sosok musisi unik. “Ada berbagai cara untuk menunjukkan rasa nasionalisme. Salah satunya menciptakan karya seni seperti Gombloh. Lewat lagunya “Kebyar-Kebyar”, ia ingin mengingatkan kita tentang perjuangan dan persatuan bangsa Indonesia,” tulisnya.

 

Jenaka, ala penyutradaraan Joind Bayuwinanda (Credit: Yose Riandi)

 

Kesulitan mementaskan sosok Gombloh adalah soal referensi. Cukup jarang peneliti atau akademisi yang menulis tentang Gombloh. Sosoknya dalam video klip hanya muncul beberapa kali saja di stasiun televisi yang dapat dilihat di YouTube. Tentu saja Wanggie harus bekerja keras untuk mendalami karakter Gombloh. Apalagi ia bukan orang asli Surabaya.

 

Tapi, Wanggie dibilang cukup berhasil dalam menirukan gerak-gerik atau gesture Gombloh. Tubuh ceking dan kumis tak teraturnya menjadikan ia punya kemiripan fisik. Apalagi didukung dengan basic keaktoran. Yakni pantomim. “Pada pementasan Panggil Aku Gombloh, sepertinya Wanggie pertama kali “Bersuara” di atas panggung,” ungkap Joind, sutradara pementasan.

 

Deddy Otara, penulis buku biografi Tan Tjen Bok, melakukan standing applause usai melihat pementasan Gombloh. “Bercandanya kena banget. Saya hitung empat puluh kali penonton tertawa,” terangnya. Ia menyebut bahwa aktor berhasil menghadirkan sosok Gombloh di atas panggung. “Tim Titimangsa meramu pementasan dengan hal-hal yang renyah. Lain daripada tokoh-tokoh politik yang pernah dipentaskan. Jelas karena Gombloh sosok seniman,” tambahnya.

 

Kejenakaan dalam pertunjukan tersebut, menurut Deddy merupakan kekhasan dari teknik penyutradaraan Joind. “Saya cukup lama mengenal Joind. Beliau merupakan seorang acting coach ketika saya nyantrik di beberapa stasiun televisi di Jakarta,” ungkapnya. Joind kerap menuangkan gimmick dan komedi dalam tiap pementasan yang dikerjakannya.

 

Selain itu, Deddy mengapresiasi kuatnya struktur penaskahan Panggil Aku Gombloh. Dalam pementasan tersebut, banyak diungkapkan sisi-sisi manusiawi seorang Gombloh. Keterlibatannya dalam dunia prostitusi, kedekatannya dengan rakyat kecil dan proses ketika ia melakukan rekaman. Baik ketika masih dalam naungan Golden Hand Record pada 1978-1980, Chandra Record (1980-1983) hingga Nirwana Record (1983-1988).

 

“Kalau naskah mengalami perombakan atau interpretasi ulang dari Agus Noor atau Joind, itu tak masalah. Yang jelas hasilnya benar-benar menarik. Karena penaskahannya sudah kuat sejak awal. Dikerjakan oleh penulis yang intens menelusuri jejak Gombloh,” ungkap penulis skenario film animasi Sopo Jarwo itu.

 

Saat berproses, Agus Noor mengimbau agar tampilan pementasan Panggil Aku Gombloh dapat penuh dengan hal-hal yang luput dari perhatian orang terkait sosok seniman kelahiran Jombang itu. Paling penting, ciri khas Suroboyoan tak hilang. Karena di Kota Surabayalah Gombloh dibesarkan. “Tapi jangan semuanya berbahasa Suroboyoan. Paling tidak ada unsur-unsur dialek Suroboyo yang khas. Biar semua orang mengerti,” ujarnya ketika itu. Ia juga banyak berperan dalam mengatur penceritaan, termasuk konflik-konflik, penambahan humor dan ending dari naskah Gombloh.

 

"Panggil Aku Gombloh" menguak sosok Gombloh (Credit: Yose Riandi)

 

Sebagai bentuk totalitas, Happy menganjurkan seluruh tim Titimangsa Foundation, termasuk tim produksi pementasan Panggil Aku Gombloh agar berpakaian ala tahun ‘80an. Sebab, Gombloh adalah musisi yang populer di tahun ‘80an. “Saya termasuk salah satu penonton yang berpakaian ala ‘80an. Memang style saya begitu. Jadi kebetulan pas dengan teman-teman tim produksi,” ujar Deddy.

 

Pementasan tersebut diselenggarakan pada 28 April di Gedung Kesenian Jakarta. Sedangkan secara virtual, akan ditayangkan melalui kanal indonesiana.tv pada Agustus mendatang. Rangkaian pementasan Di Tepi Sejarah adalah bentuk kerja sama Titimangsa Foundation dengan @kawankawanmedia, juga Direktorat Perfilman, Musik dan Media Kemendikbudristek.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *