Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur: Jejak Dakwah Islam di Lamongan (1)
Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur Lamongan

Jika Surabaya punya Langgar Dhuwur Lawang Seketeng, Kota Lamongan punya Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur. Sama-sama memiliki nilai sejarah. Sebagai tempat peribadatan, mengaji serta konsolidasi perjuangan menghadapi penjajah. Pendirinya adalah ulama kharismatik Lamongan, KH Mastur Asnawi.

 

Di pusat Kota Lamongan, tepatnya di Jalan Kyai Amin no 38, Sidokumpul, terdapat langgar berusia cukup tua. Jika musala atau masjid di Lamongan sudah berarsitektur modern dan megah, langgar tersebut masih mempertahankan keasliannya. Seluruhnya terbuat dari papan kayu dan bermodel panggung. Orang menyebutnya "Langgar Panggung Yai Mastur" atau lebih dikenal dengan sebutan "Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur".

 

Letaknya sekitar 2 kilometer dari Alun-alun Kota Lamongan. Terdapat di sisi selatan jalan menikung. Bangunan khas yang menjadi pembeda dari bangunan di sekitarnya. Langgar tersebut masih difungsikan untuk persembahyangan, khususnya oleh Pondok Pesantren Tahfidhul Quran. Langgar bersejarah tersebut ada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Pengelolanya adalah KH Muhammad Faqih Arifin, cucu KH Mastur.

 

Sehari-hari KH Faqih menjadi imam salat di langgar tersebut. Putranya, Dzihan Zariz, kerap memimpin pengajian bersama para jamaah. Lokasi rumah KH Faqih tak jauh dari Langgar Dhuwur. Sekitar 50 meter ke arah barat. Syauqi Illahi, salah satu jamaah Langgar Dhuwur yang kebetulan sedang berada dalam langgar, menunjukkan rumah tersebut. "Orang sekitar yang paling tahu sejarahnya hanya Abah Faqih. Karena beliau generasi ketiga yang mengelola langgar tersebut," ungkapnya.

 

Almari berisi ratusan buku terpajang di ruang tamu Abah Faqih. Sebuah meja panjang membujur, tersaji beberapa toples makanan ringan. "Masih suasana lebaran, kan. Jadi banyak jajan," sambut KH Faqih. Ia mengenakan pakaian koko putih, bersarung dan berkopiah. Sangat NU. Hari itu, 8 Mei, sore pukul 5, ia hendak bersiap-siap menjadi imam salat magrib.

 

KH Muhammad Faqih Arifin, putra KH Mastur Asnawi

 

"Jadi langgar dhuwur itu dibangun pada tahun 1919. Tepat beberapa bulan ketika almarhum kakek saya, KH Mastur Asnawi pulang dari Mekkah. Di sana beliau belajar agama," ujarnya. Saat itu Indonesia masih bernama Hindia Belanda dan berada dalam kekuasaan pemerintah kolonial.

 

Ketika belajar di Mekkah, KH Mastur seangkatan dengan Syekh Mahfudz At Turmusi (Termas), KH Bisri Mustofa, ayah dari KH Mustofa Bisri dan KH. Dalhar Watucongol. Pada zaman itu agama Islam belum tersebar luas di Lamongan, khususnya di kawasan yang kini menjadi pusat kota. Agama Islam hanya tersebar di lingkungan pesisir seperti kawasan Sunan Drajat, Sunan Sendang Dhuwur hingga pesisir Pantai Utara yang membentang dari Tuban ke Gresik. "Kakek saya termasuk tokoh pendakwah yang menyebarkan Islam bagi masyarakat di kawasan pusat kota Lamongan," ungkapnya.

 

Sebagai sarana ibadah, KH Mastur membangun langgar panggung itu pada 1919. Dibuat tinggi seperti rumah panggung karena pada masa lalu kawasan tersebut sering dilanda banjir. Selain itu, pemerintah kolonial sangat mewaspadai penyebaran agama Islam berikut tokoh-tokohnya yang berpotensi dapat mengonsolidasi perlawanan di kalangan masyarakat. Maka, langgar tersebut juga digunakan sebagai sarana mengaji, salat serta tempat berkumpulnya para gerilyawan secara sembunyi-sembunyi.

 

Konon, masjid, langgar atau musala yang ada di kawasan Lamongan Kota, dulu dibuat seperti langgar milik KH Mastur. Yakni semacam rumah panggung. Fungsi dan peruntukkannya pun sama. Seiring waktu semua masjid dirombak, direnovasi dengan megah. Hanya Langgar Dhuwur saja yang dipertahankan. "Tentu karena nilai sejarahnya. Langgar pertama di Kota Lamongan, lho. Jadi jangan diubah. Biarkan saja seperti itu," ujar pria 67 tahun itu.

 

Langgar tersebut terbuat dari kayu seluruhnya. Langkah renovasi hanyalah pembangunan pilar-pilar di berbagai sisi untuk memperkuat pondasi bangunan. Setiap jamaah yang ingin salat harus menaiki tangga yang terdapat di sisi selatan. Tangganya pun dari kayu. Hanya cukup untuk seorang. Jadi yang ingin masuk harus bergantian.

 

Di bagian belakang langgar tersebut terdapat sumur tua yang berusia sama. Dahulu digunakan oleh KH Mastur bersama para jamaahnya untuk menimba air wudhu. Sedangkan pancuran untuk berwudhu yang terdapat di sebelah kiri sumur telah direnovasi menjadi lebih layak.

 

Masyarakat setempat telah mengajukan Langgar Dhuwur sebagai cagar budaya. "Tapi sejauh ini belum ada tindak lanjut dari pemerintah. Kami berharap sebagai salah satu situs bersejarah, pemkab dapat membantu upaya perawatan dan pemeliharaannya," ujar Dzihan.

 

Sumur tua di belakang langgar

 

Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur sebenarnya telah layak disebut sebagai cagar budaya, karena telah memenuhi kriteria yang tercantum dalam Undang-Undang tentang Benda Cagar Budaya No 11 Tahun 2010. Yakni, pertama, berusia lima puluh tahun atau lebih. Kedua, mewakili masa gaya (arsitektural) paling singkat berusia lima puluh tahun. Ketiga, memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan. Terakhir, keempat, memiliki nilai budaya bagi penguatan kepribadian bangsa.

 

Arsitekturalnya masih asli. Punya nilai sejarah sebagai situs penanda perkembangan Islam di Kota Lamongan. Gaya arsitektural dan sosok KH Mastur berikut metode dakwahnya berguna bagi kajian ilmu pengetahuan dan agama serta keberadaan langgar tersebut dilestarikan dan dijaga oleh warga Jalan Kyai Amin. "Sudah lengkap, kan. Didirikan sejak 1919, usia langgar sudah lebih dari 50 tahun. Sekarang 103 tahun. Sudah sepantasnya ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya," ungkap Dzihan.

 

Semasa hidup, KH Mastur memiliki empat orang istri. Namun hanya istri terakhir, Nyai Masturoh yang memiliki keturunan. KH Faqih merupakan cucu KH Mastur dari pasangan H Zaenal Arifin dan Roudhoh Mastur. Kini, KH Faqih yang diserahi amanah untuk mengelola langgar tersebut.

 

KH Faqih hendak menunjukkan lokasi penimbunan senjata milik tentara Belanda di belakang langgar. Namun tak berapa lama lagi azan magrib berkumandang. Waktunya salat. Ia bersiap menjadi imam.

 

Bersambung...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *