Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur: Jejak Dakwah Islam di Lamongan (3-Habis)

Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur bagi masyarakat Lamongan memiliki nilai sejarah. Pendirinya, KH Mastur Asnawi adalah sosok yang begitu dihormati pula. Selain sebagai kiai, ia juga merupakan pejuang Perang Kemerdekaan, berkontribusi dalam perekonomian masyarakat serta pendidikan. Ia juga salah satu pendiri Masjid Agung Lamongan.

 

Bangunan berusia 103 tahun itu masih tegak berdiri di Jalan Kyai Amin no 38. Sebagai tempat ibadah, mengaji dan berbagai kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan ritus Islam. Pendirinya, KH Mastur, warga menyebutnya Mbah Kiai Mastur, adalah sosok ulama karismatik. Kontribusinya terhadap bangsa dan negara, juga pada Kota Lamongan begitu besar.

 

KH Mastur bersama Presiden Soekarno

 

"Tidak diketahui tanggal pasti kelahiran almarhum KH Mastur. Namun beliau wafat pada tahun 1982. Usianya sekitar 90 tahun," ungkap KH Muhammad Faqih Arifin, cucu KH Mastur. Menurut cerita turun-temurun, sosok KH Mastur dalam keseharian sangat sederhana. Ia berdakwah sekaligus berjuang mempertahankan kemerdekaan bersama kawan-kawannya. Yakni KH. Abu Ali dari daerah Parengan, Sekaran, KH. Hasbulloh dari Galang dan KH. Ahmad Hamid dari daerah Babat.

 

Ketika sekutu mendaratkan balatentaranya ke Indonesia, KH Mastur dan kawan-kawan seperjuangan bergabung dalam Laskar Hizbullah. Ia turut serta dalam pertempuran besar 10 November di Surabaya. Serta dalam berbagai pertempuran lain, khususnya yang terjadi di Kota Lamongan.

 

Sebagai gerilyawan Hizbullah, KH Mastur dikenal pula sebagai pemasok senjata bagi para pejuang. Ia kerap mengambil senjata-senjata yang disimpan di bekas gedung HIS, yang ketika itu menjadi markas tentara Sekutu yang dibonceng NICA, Belanda. "Sekarang gedung itu jadi bangunan sekolah SMPN 1 Lamongan. Dulu senjata-senjata disimpan di lahan belakang langgar dhuwur," ujar KH Faqih.

 

"Intinya KH Mastur mendermakan seluruh hidupnya demi Kota Lamongan berikut penanaman nilai-nilai Islam pada masyarakat," ujar Dzihan Zahris, putra KH Faqih yang merupakan cicit KH Mastur. Pendermaan itu tak sekadar berdakwah dan berjuang saja. Tapi juga peduli terhadap dunia pendidikan dan perekonomian warga. "Terlebih pada kaum perempuan. Almarhum sangat peduli terhadap pendidikan bagi kaum perempuan. Beliau ingin para perempuan mendapat hak pendidikan yang sama dengan laki-laki," tambahnya.

 

Pada zaman itu, masyarakat masih terkungkung dalam kultur yang menganggap bahwa perempuan tidak terlalu penting untuk mendapatkan pendidikan. Utamanya penguasaan baca-tulis dan keilmuan-keilmuan lain, termasuk ilmu agama. "Namun beliau tegas mendampingi masyarakat dengan tulus. Terlebih terhadap kaum perempuan. Semua generasi muda harus menjadi pribadi yang terdidik, baik dari ilmu pengetahuan maupun agama," ujar pria 33 tahun itu.

 

KH Faqih menunjuk lokasi penyimpanan senjata pada masa lalu

 

Upaya mulia itu dibuktikan pada tahun 1919. Sepulang dari menimba ilmu agama Islam di Mekkah, KH Mastur mendirikan Majelis Ta'lim Tahfidhul Qur'an yang kini dikenal dengan sebutan Langgar Panggung atau Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur. Kemudian ia mendirikan bangunan-bangunan lain untuk kepentingan pendidikan bernuansa Islam.

 

Madrasah Ibtidaiyyah Banat, yang kini menjadi SD NU Banat-Banin adalah salah satu bangunan madrasah yang digagas oleh KH Mastur. Bangunan tersebut terletak di Jalan Kyai Amin no 14. Jaraknya sekitar 300 meter dari Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur.

 

Selain itu KH Mastur juga menggagas berdirinya Ponpes Al Masturiyah yang berada di daerah Kranggan, Lamongan. Kemudian Mts Putra-Putri dan Madrasah Aliyah Pembangunan. Di sela kegiatannya sebagai pendidik, KH Mastur juga juga aktif menulis beberapa kitab. "Jumlah kitab karya almarhum tak terhitung banyaknya. Masih kami simpan dengan rapi di rak almari," ungkap KH Faqih, kemudian menunjuk almari besar yang terpajang di ruang tamu rumahnya.

 

Dzihan menyebut bahwa jika ditelaah lebih dalam, pembaca kitab-kitab KH Mastur akan menemukan kesimpulan terkait pribadinya. "Bahwa almarhum tak hanya ahli dalam satu bidang lini ilmu agama saja. Sejumlah buku kuno yang masih orisinil bertulisan tangan beliau, termuat banyak karya yang mencakup lintas keilmuan, antara lain: fiqih, tajwid, falaq, dan lain-lain," terangnya.

 

Dalam berbagai karya tulis, KH Mastur menghadirkan pula pengajaran terkait ilmu-ilmu tentang fenomena-fenomena kontekstual yang tengah dibutuhkan. Bahkan masih relevan hingga kini. "Karya tulis dalam kitabnya kerap mengunakan metode question and answer. Tanya-jawab. Tentang fiqih misalnya, beliau banyak menggali pertanyaan-pertanyaan kemudian jawaban disajikan berdasarkan maroji’ atau sumber dari kitab-kitab kuning," ungkapnya.

 

Bangunan Masjid Agung Lamongan yang terdapat di belakang alun-alun kota juga digagas oleh KH Mastur. Semasa hidup ia sering berdakwah di atas mimbar dalam masjid tersebut. Cerita paling populer adalah tentang karomah KH Mastur. "Konon beberapa bulan sebelum terjadinya peristiwa G30S/PKI, KH Mastur telah mendapat firasat. Ia mengetahui bahwa tak berapa lama akan terjadi peristiwa menggemparkan," ungkap KH Faqih.

 

Dalam mimbar, KH Mastur menyampaikan, "Diluk engkas kedaden ontran-ontran. Sopo sing pingin sugih, dodolo kopiah lan kudung,". Artinya, sebentar lagi akan terjadi peristiwa menggemparkan. Siapa yang ingin kaya, sebaiknya berjualan kopiah dan kerudung. Konteksnya, ketika terjadi peristiwa G30S/PKI, banyak orang diburu. Beberapa dari mereka memilih untuk berpakaian ala santri agar terbebas dari tuduhan abangan atau simpatisan PKI. "Apa yang dikatakan kakek saya benar-benar terjadi. Itulah salah satu kisah karomah beliau," ujar pria 67 tahun itu.

 

Dari segi perekonomian, KH Mastur pernah menggagas Syirkah Ijarah Muammalah. "Semacam lembaga koperasi untuk umat. Beliau mengumpulkan berbagai pedagang di Kota Lamongan. Saling bantu-membantu demi kesejahteraan bersama," terangnya. Kontribusinya yang begitu besar itu membuatnya menjadi sosok paling dihormati oleh masyarakat sekitar. Terutama bagi warga Lamongan. "Karena pada zaman itu, hampir seluruh masyarakat Lamongan menimba ilmu agama pada almarhum," tambahnya.

 

Kegiatan mengaji di Langgar Dhuwur

 

Makam KH Mastur dapat dijumpai di lokasi Masjid Agung Lamongan. Hampir setiap hari makam tersebut dipenuhi oleh peziarah. Meski kiprahnya dalam perjuangan kemerdekaan, pendidikan dan perekonomian warga begitu besar, hingga kini KH Mastur belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Begitu pun langgar tua yang didirikannya. Tak kunjung ditetapkan sebagai situs cagar budaya. "Sudah diajukan oleh masyarakat. Kami sebagai keluarga memberikan support. Semoga pemerintah dapat tergugah. Mengingat KH Mastur merupakan sosok penting bagi masyarakat Lamongan," pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *