Jejak Penyertaan dalam Karya Suster Noorwindhi Kartika Dewi
Tiga Burung Pipit Kuatkan Makna Insieme

Kasih Tuhan menyertai setiap langkah. Selalu ada nama-Nya dalam tiap karya Noorwindhi Kartika Dewi. Biarawati tersebut menuang pengalaman penyertaan serta pengabdian panjang kemanusiaan dan pendidikan melalui lukisan.

 

Dalam ruangan kerja di belakang kompleks sekolah Santa Maria, Surabaya, Suster Windhi menunjukkan dua karya miliknya: Sketsa Perjalanan dan Ziarah Hidup. Keduanya dibuat dengan teknik gambar digital. 

 

Karya Sketsa Perjalanan dipajang tepat di belakang kursi kerjanya. “Kalau ingin tahu makna lukisan tersebut, baca ini,” ujarnya. Kemudian menunjuk secarik kertas yang terselip di kaca meja. Terbaca:

 

Saatnya melanjutkan langkah. Menuju stasi berikutnya sebagai bagian dari ziarah hidup. Warna-warni pengalaman menjadi indah ketika Engkau setia menemani dan membantuku untuk memaknai. Gusti, Engkaulah hidup dan tujuanku...

 

Beragam objek persegi berwarna-warni terdapat di beberapa bagian seperti bingkai, di tengah-tengahnya terdapat gambaran jejak kaki. Latar putih serupa lingkaran di belakang membias, melingkupi hampir keseluruhan bidang lukisan.

 

Dalam latar tersebut, warna-warni yang serupa dengan warna tiap objek persegi ditorehkan secara samar. Sehingga seolah semua warna tercurahkan atau berasal dari lingkaran putih tersebut. Sedangkan sudut kanan dan kiri dibuat sedikit gelap.

 

Sketsa Perjalanan

 

Tak hanya sebagai estetika komposisi dalam bangunan abstrak figuratif. Karya tersebut mencerminkan perjalanan spiritual Suster Windhi. “Kotak-kotak itu melambangkan pengalaman saya dari waktu ke waktu. Jejak kaki merupakan simbol penyertaan Tuhan dalam perjalanan saya,” ujarnya.

 

Lingkaran putih yang membias layaknya sinar matahari pun merupakan bentuk dari kasih Bapa yang menaungi dan menjaga dirinya setiap saat. “Saya selalu berada dalam frame Allah. Tanpa Dia, saya nothing,” terang biarawati 59 tahun itu.

 

Sedangkan lukisan Ziarah Hidup, mencantumkan tulisan yang dimuat cukup besar: Insieme. Berada di samping figur patung Santa Angela Merici, pendiri ordo Ursulin. “Insieme artinya kebersamaan, keharmonisan. Semua yang terjadi oleh kehendak Allah. Kata itu merupakan kata khas ordo Ursulin,” ujarnya.

 

Dalam Ziarah Hidup, Suster Windhi menuliskan kata-kata mutiara dalam bahasa Inggris: Be bound to one another by the bond of charity / Esteeming each other / Helping each other / Bearing with each other in Jesus Christ / for if you strive to be like this / without any doubt / The Lord God will be in your midst.

 

Maknanya, hendaknya tiap orang dapat terikat satu sama lain dalam ikatan amal. Saling menghargai, saling membantu, saling menopang dalam Yesus Kristus. Karena jika seseorang berusaha untuk menjadi seperti itu, tanpa keraguan, Tuhan akan berada di tengah-tengah orang tersebut.

 

“Ketika lukisan itu selesai, saya merenung. Pintu dan jendela ruang kerja saya waktu itu terbuka. Kemudian tiba-tiba saja terjadi hal unik,” ujar perempuan asli Pemalang, Jawa Tengah itu.

 

Lukisan itu berada di dinding, di atas sebuah gambar Yesus yang berdiri bersandar di papan almari panjang. Karena ruang kerja terbuka, tiga ekor burung pipit tiba-tiba hinggap di meja tersebut. Tepat di depan gambar Yesus. “Satu keluarga burung pipit. Ada induk, pejantan dan anaknya,” terangnya.

 

Anak burung pipit bercuit di depan gambar Yesus. Induk burung menyuapi dengan makanan melalui paruhnya. Sedangkan burung pipit jantan mengawasi, seakan menjaga anak burung itu. “Langsung saya ambil handphone. Saya rekam,” ujar ketua Yayasan Paratha Bhakti, yang menaungi sekolah Santa Maria itu.

 

Ziarah Hidup

 

Saat disuapi, tiba-tiba anak burung berjalan ke belakang foto Yesus. Induk burung mengikutinya. Melewati lorong bingkai sebelah kanan kemudian muncul kembali di sebelah kiri. Induk burung mengejar. Tak putus asa membujuk anaknya untuk makan. Burung jantan tetap berjaga.


“Kejadian itu berlangsung lama sekali. Keluarga burung yang sedang merawat dan menjaga anaknya itu seakan menerjemahkan makna Insieme tepat di hadapan saya,” ungkapnya. Baginya, semua itu merupakan pesan spiritual yang dikirimkan oleh Tuhan. Terlebih, peristiwa itu terjadi tepat saat perayaan Yesus Kerahiman Illahi, atau Minggu Putih pada 24 April lalu.

 

Selain sebagai perupa, suster Windhi dikenal sebagai biarawati sekaligus pendidik yang melek teknologi. Dia piawai memanfaatkan aplikasi-aplikasi untuk melukis. Seperti adobe premiere, adobe photoshop serta beragam aplikasi android.

 

Jika sebuah aplikasi berbayar, dia selalu menyiasati dengan teknik khusus. “Misalnya ada aplikasi berbayar hanya untuk menghilangkan background objek. Caranya gampang. Dihilangkan dulu menggunakan aplikasi lainnya. Kemudian masuk kembali ke aplikasi tersebut. Diolah. Selesai,” ungkapnya. Kemudian tertawa.

 

Syukur dalam Keindahan-Mu

 

Namun tak hanya karya-karya digital. Suster Windhi juga memiliki karya yang dibuat dengan akrilik dan cat minyak.

 

Karya Syukur dalam Keindahan-Mu menggunakan cat akrilik. Sebuah lukisan tentang rangkaian daun bermotif ornamen dengan latar torehan warna-warna spontan. Paduan antara bentuk daun yang dekoratif dengan background khas genre ekspresionisme.

 

Penataan komposisi lukisan tersebut cukup baik. Sehingga meski memadukan dua genre, lukisannya justru tampak artistik. Biasanya jika tak berhati-hati, posisi objek utama akan tampak terpisah seperti potongan gambar yang ditempel begitu saja di atas latar yang telah jadi. Terganggu akibat kontras.

 

Sedangkan posisi daun sebagai center of interest karya Suster Windhi justru menyatu dengan warna latar. Seperti halnya lukisan lainnya berjudul Dalam Ritmik Rencana-Mu. Daun dalam lukisan tersebut tampak bervolume. “Kontur saya buat menggunakan lem tembak. Kemudian diberi warna emas. Jadi terlihat timbul,” terangnya.

 

Bloom Where You are Planted, lukisan bunga, dibuat dengan cat minyak. Beberapa lukisan lain dikerjakan di atas media kaca dengan media akrilik. Seperti lukisan berjudul Labirin. “Pakai kaca biasa. Kebetulan di sudut sekolah ada beberapa potongan kaca tak terpakai. Saya manfaatkan,” ungkapnya.

 

Keahlian melukis itu telah ditekuni Suster Windhi sejak kecil. Ayahnya, kerap membelikan peralatan melukis dan mendorongnya untuk terus berkarya. “Orang tua memotivasi saya, memberi kebebasan saya untuk berkarya seni. Karena seni merupakan olah rasa. Membangkitkan kreativitas serta pikiran positif,” ungkapnya.

 

Dalam Ritmik Rencana-Mu

 

Pendidikan seni pun diterapkan dan diajarkan dengan sungguh-sungguh untuk anak didiknya. Selain berkarya seni rupa, Suster Windhi juga pandai bermain musik dan menguasai banyak jenis tarian.

 

Namun untuk seni rupa, dia belum pernah menyelenggarakan pameran lukisan. “Saya pajang saja di kamar dan ruang kerja. Karya saya adalah pengingat bagi diri saya tentang segenap perjalanan, serta penyertaan Tuhan. Apa yang terjadi berkat kehendak-Nya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *