Menguak Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem (1)
Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem Surabaya

Di Jalan Pakis Tirtosari, Surabaya, terdapat pengobatan alternatif dengan metode unik. Yakni memanfaatkan penataan frekuensi energi tubuh. Disebut sebagai Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem. Bukan klenik, terapi tersebut justru berlandaskan pedoman ilmiah tentang ilmu energi dan keterkaitannya dengan kesehatan.

 

Tubuh manusia dan sistem metabolismenya merupakan rangkaian getaran frekuensi yang menciptakan tenaga gerak, emosi dan sebagainya. Jika frekuensi energi tersebut tak seimbang, maka manusia dapat mengalami kecemasan, sedih atau gangguan-gangguan metabolisme lainnya.

 

Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem merupakan sistem pengobatan yang berbasis pengaturan energi dalam tubuh. Bertujuan untuk mengharmoniskan frekuensi getaran energi tersebut. Terapi itu terletak di Jalan Pakis Tirtosari 7 no.6, Surabaya. Pengampunya adalah Oktovan Iwan Priswanto.

 

"Memakai kata resonansi, karena getaran energi dalam tubuh manusia dapat saya rasakan. Kemudian saya sinergikan agar tidak mengacaukan metabolisme," ungkap pria yang akrab disapa Abah Iwan itu. Intinya, melalui pengaturan energi tersebut, sistem tubuh dapat tertata kembali. Energi negatif di dalamnya, seperti bakteri atau virus dapat dihilangkan. "Karena penataan energi metabolisme otomatis memperkuat pula pertahanan tubuh," tambahnya.

 

Metodenya menggunakan dua macam terapi. Yakni menggunakan tongkat khusus untuk mengetahui jenis penyakit dan mengobatinya, serta terapi cahaya. Yakni menggunakan meja khusus dengan lampu yang ditempatkan di beberapa sudut. Metode tambahan adalah menggunakan terapi musik Oxytron. Sebuah musik relaksasi yang membantu penyelarasan frekuensi energi di dalam tubuh.

 

"Metode kami ilmiah dan bukan klenik. Kami juga berlandaskan jurnal-jurnal ilmiah tentang pemanfaatan energi untuk kesehatan. Founder terapi ini, Mas Subki Azal Tzani, juga telah melakukan penelitian serius sebelum merilisnya pada 2014," ungkapnya. Abah Iwan memberi contoh metode terapi frekuensi energi tersebut.

 

Abah Iwan, Terapis Sehat Tentrem

 

Orang yang menderita penyakit organ kepala atau tenggorokan, yang perlu ditata adalah frekuensi energi elemen ether dalam tubuh. "Dapat dirasakan, bahwa getaran frekuensi penderita sakit kepala atau tenggorokan berada dalam frekuensi 2 hingga 7hz," terangnya. Sedangkan sistem metabolisme yang sehat untuk kepala dan tenggorokan, lazimnya berada dalam frekuensi 1/6hz untuk organ kepala. Untuk tenggorokan adalah 1/5hz. "Ya diatur energi tubuhnya untuk mencapai frekuensi yang lazim. Maka dia bisa terbebas dari rasa sakitnya," tambahnya.

 

Ada pula pemanfaatan frekuensi energi dalam tubuh manusia untuk mengetahui jenis penyakit dan penyebabnya. Alergi, misalnya. Alergi, menurut Abah Iwan ada kalanya disebabkan oleh pengaruh masa kecil. Sesuatu yang dilarang oleh orang di sekitarnya, mengendap dalam memori sel kemudian membangkitkan dampak yang berpengaruh dalam tubuh. "Saya mengalami langsung. Dulu selalu gatal-gatal jika mengonsumsi makanan berbahan petis. Sekarang tidak lagi," ungkapnya.

 

Jika alergi tersebut disebabkan oleh pengalaman masa kecil yang mungkin pasien sudah lupa, Abah Iwan dapat membantu mengingat kembali peristiwa-peristiwa tersebut dengan cara mengaktifkan memori sel dalam tubuhnya. "Kembali dengan memanfaatkan frekuensi energi metabolisme. Dalam keheningan tertentu, ketika pola energi dalam tubuh sudah memasuki 1/6hz, maka ia bisa mengingat semua, bahkan ketika masih berada dalam kandungan," ujar pria 46 tahun itu.

 

Metode tersebut mengingatkan pada kisah Mahabharata. Dalam episode Bharatayudha, Drona, Panglima Perang Kurawa dikisahkan memakai strategi perang cakravyuha. Yakni strategi melingkar yang menempatkan semua prajuritnya berada dalam tiap posisi lingkaran yang membentuk semacam labirin. Dari pasukan Pandawa, hanya ada satu orang yang mengetahui cara menghancurkan strategi tersebut. Yakni Arjuna.

 

"Tapi Arjuna ketika itu ada dalam medan perang lain. Yang tahu tinggal Abimanyu. Dia mengerti cara untuk membongkar formasi cakravyuha, tapi tak tahu cara keluarnya. Abimanyu mendapat pengetahuan dari ayahnya saat masih dalam kandungan," ungkapnya. Ketika itu Arjuna mengajarkan cara menembus formasi cakravyuha pada ibu Abimanyu, Subadra ketika dia masih mengandung.

 

"Janin Abimanyu mendengarnya. Ia dapat mengingatnya," ungkapnya.
Hal tersebut bagi Abah Iwan bukan cerita mistis. Abimanyu dapat mengingat semua hal karena mampu membangkitkan sel yang masih menyimpan ingatan tersebut dalam tubuhnya. "Bisa dipraktikkan pada manusia zaman sekarang juga," ujarnya. Terkait alergi, Abah Iwan bercerita bahwa pada masa lalu, orang tuanya kerap melarang memakan makanan yang mengandung petis karena bagi mereka petis tak baik bagi kesehatan.

 

"Doktrin yang terserap sepanjang waktu, akhirnya membuat saya alergi makan petis," ujarnya.
Namun ada pula alergi yang bersifat turunan. Gen dari orang tua atau leluhur, misalnya. Baik yang disebabkan oleh pengaruh maupun turunan, alergi dapat disembuhkan menggunakan Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem. "Tapi perlu tahu dulu penyebab utamanya. Pasien diajak mengingatnya lewat metode MTB atau Mix Transformation Booster," ungkapnya.

 

Metode tersebut adalah bagian dari terapi yang dilakukan Abah Iwan. Ia merelaksasi pasien dengan menurunkan frekuensi energinya sampai berukuran 1/6hz. Yakni dalam kondisi sangat hening dan rileks. "Ketika penyebab alergi sudah diketahui, maka tinggal menyelaraskan energi antar sel. Jika sudah sinergis, maka paparan pemicu alergi tak membuat pasien itu tak alergi lagi," ungkap alumnus FKH Unair itu.


Alergi secara ilmiah, disebabkan oleh protein dari luar yang masuk ke dalam tubuh dan dianggap asing oleh sistem tubuh. Misalnya alergi petis. Jika protein petis masuk dalam tubuh, maka sistem tubuh berusaha mengeluarkan protein tersebut. Proses pengeluaran tersebut menyebabkan tubuh mengalami berbagai kecenderungan yang disebut alergi. Seperti ruam merah, bersin-bersin dan sebagainya.

 

Meja Cahaya dan Terapi Musik Oxytron

 

"Dengan penyelarasan energi, memori dalam sel dapat menerima benda asing, tentu penerimaan dalam ambang batas tertentu. Yang jelas meski terpapar sudah tak lagi menyebabkan alergi. Seperti pengalaman saya. Sekarang makan petis aman-aman saja," ungkapnya.

 

Begitu pula dengan penyakit-penyakit lainnya. Terapi tersebut pun mampu menerapi orang dengan kondisi kejiwaan seperti depresi, stress dan sebagainya. "Hanya masalah menata frekuensi tubuh saja. Menggunakan terapi tongkat atau paparan cahaya," ujarnya. Untuk metode tongkat, bisa diketahui frekuensi getaran energi pasien dan membantu menstabilkan atau menata metabolisme dalam tubuhnya.

 

Sedangkan metode paparan energi cahaya dilakukan untuk meraih hasil yang lebih maksimal. Dengan hanya membaringkan pasien dan merileksasinya dengan musik Oxytron. Paduan metode-metode tersebut terbukti banyak yang cocok. Pasien Abah Iwan berdatangan dari dalam dan luar negeri.

 

*Bersambung.....

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *