Menguak Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem (2)

Metode terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem dilakukan menggunakan tiga hal. Pertama, tongkat, untuk mendiagnosa penyakit serta mensinkronkan getaran energi dalam metabolisme tubuh. Kedua, menggunakan paparan cahaya untuk memperkuat energi dalam tubuh serta membangkitkan sistem imun. Ketiga, menggunakan musik Oxytron untuk relaksasi serta pengobatan.

 

Sebagai terapis, Oktovan Iwan Priswanto, yang akrab disapa Abah Iwan menggunakan tiga metode untuk menerapi pasien. Langkahnya cukup mudah dan praktik terapinya sangat ringan. Tak memberi rasa sakit seperti dipijat atau ditusuk jarum. Hanya ditodong dengan tongkat dan disuruh berbaring saja di atas meja.

 

"Mbak Nining Yus misalnya, rutin terapi di sini. Tiga kali terapi saja sebenarnya sudah sembuh. Tapi beliau masih mau terapi lagi," ungkap Abah Iwan, sembari menunjuk salah satu pasiennya. Perempuan itu pernah didiagnosa MIUM. "Kalau menstruasi terasa sakit. Ada tonjolan MIUM sebesar 6cm. Tapi setelah terapi sudah jauh membaik," ujarnya.

 

Sebelum diterapi, terlebih dulu Abah Iwan mengajak diskusi pada pasiennya. Bertanya tentang keluhan dan pengobatan yang pernah dilakukan. Proses itu pun berlangsung dengan santai dan rileks. Maka tak heran rumah miliknya di Pakis Tirtosari didesain memiliki dua fungsi sekaligus. Sebagai rumah terapi sekaligus kafe. "Kan ngobrol tentang keluhan bisa lebih santai. Sambil minum kopi," ungkapnya.

 

Setelah diajak berdiskusi, pasien diajak masuk ke ruang terapi. Di dalam ruang yang terletak di sebelah barat itu, terdapat semacam meja persegi yang cukup lebar. Saat itu tertutup kain hijau. Saklar di tiang pancang ruangan dinyalakan dan muncullah pendaran sinar berwarna-warni dari meja tersebut. Ketika penutup meja dibuka, tampak gambar bintang segi delapan. Masing-masing sudutnya beraksara Arab dengan masing-masing lampu di dalamnya bercahaya remang.

 

Proses Terapi

Saat melakukan terapi, Abah Iwan mengenakan jas terapisnya yang berwarna biru dengan bawahan celana panjang hitam. Sangat formal. Pakaian itu memang lazim dikenakan oleh terapis Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem. Mengesankan bahwa meski metode pengobatan tersebut dihasilkan oleh kalangan pesantren, namun praktiknya tak mencirikan kekhasan satu agama tertentu. "Ini pengobatan untuk semua orang. Tak ada kekhususan harus agama apa atau suku apa. Seperti dokter, kalau pasien datang, yang ditanya penyakitnya. Bukan agamanya," ujarnya.

 

Sebelum membaringkan pasien dalam meja terapi, Abah Iwan terlebih dulu berdoa. Kemudian menyetel timer kecil di tangannya, untuk mengatur waktu terapi. Penentuan waktu tergantung seberapa parah penyakit pasien tersebut. Jika ringan, hanya berbaring selama 10 menit. Jika berat, 20-30 menit.

 

"Silahkan," pinta Abah Iwan kepada Nining. Dia pun melangkah ke meja kemudian berbaring. Posisi tangannya telentang sesuai sudut bintang. Telapak tangan menyentuh meja. Sedangkan posisi kaki sedikit mengatup. Kemudian Abah Iwan meletakkan beberapa tongkat di beberapa bagian tubuh seperti kaki, lengan dan leher. "Rileks saja ya. Biar lebih santai sambil dihayati musiknya," ujarnya.

 

Ia membunyikan musik bernuansa instrumental. Cenderung dominan warna suara keyboard yang mengalun, dengan musik latar panjang seperti bunyi gelombang laut yang tenang. Perpindahan antar kordnya berlangsung beberapa kali namun perpindahan tersebut terjadi secara sayup dan hampir tak terasa, dengan aksentuasi petikan-petikan nada yang sayup pula.

 

Mendengarkan musik, yang disebut Abah sebagai musik Oxytron berjudul Manunggaling Kawula Gusti itu membuat hati tenang. Dalam ruangan tertutup yang harusnya lembab dan pengab, tanpa celah ventilasi, justru angin terasa penuh dan berputar-putar layaknya sedang berada dalam ruangan terbuka. Aneh, memang.

 

Ketika Nining berbaring dan memejamkan mata, Abah Iwan memegang satu tongkat dan beranjak dari sudut ke sudut. Di tiap perhentian ia menyorongkan tongkatnya ke tubuh Nining. Namun tak mengenainya. Ketika itu ia berhenti dan terdiam cukup lama. Terkadang tangannya terlihat bergetar.

 

Sampai pada bagian kaki, Abah Iwan menyentuhkan ujung tongkat tersebut ke telapak kaki Nining. Yang bersangkutan terlihat membuka matanya. Mungkin sedikit terkejut merasakan sentuhan tongkat tersebut. Abah Iwan kembali terdiam sambil memegang tongkatnya. Sebelum terapi, ia menyebut bahwa dengan tongkat tersebut Abah Iwan mampu merasakan kadar oksigen serta gerak energi dalam metabolisme tubuh pasiennya. Kemudian membantu mensinkronisasikan energi-energi tersebut.

 

Selama 21 menit terapi itu dilakukan. Nining pun nyaris tertidur karena musik Oxytron yang didengarnya. Saat selesai, timer yang dipegang Abah Iwan berbunyi. "Sudah selesai. Jangan lupa ucap alhamdullilah delapan kali," ungkapnya pada Nining. Karena pasien tersebut muslim, maka dia mengucap alhamdulillah. Bila non-muslim, Abah Iwan selalu menganjurkan mereka untuk mengucap syukur dalam doa versi mereka masing-masing.

 

Ramuan Herbal

 

Setelah melakukan terapi, Nining kembali duduk di kafe tersebut. Selagi menunggu, Abah Iwan membuatkan ramuan herbal untuknya. Pengobatan alternatif tersebut selain melakukan terapi, juga menyediakan herbal. Dapat dikonsumsi secara oral maupun inhalasi, atau dengan cara dihirup.

 

Menurut Abah Iwan, pengobatan secara inhalasi lebih merasuk dalam tubuh manusia. Herbal baik yg berbentuk asap maupun diseduh airnya. Sistem pengasapan. "Karena partikel-partikel dalam asap lebih cepat masuk dalam sistem peredaran darah manusia. Dibanding herbal yang bersifat cairan. Karena cairan harus dicerna dulu oleh tubuh. Baru setelah itu memasuki proses metabolisme," ujar pria 46 tahun itu.

 

Di sisi lain, sistem imun tubuh berada pada lapisan supervisial atau lapisan terluar dalam jaringan organ. Maka pengobatan seperti inhalasi dapat bekerja lebih optimal. Selain itu pengobatan inhalasi dapat membantu sinkronisasi energi di dalam tubuh. "Jadi pada dasarnya ramuan tersebut mendukung kesembuhan setelah pasien diterapi menggunakan cahaya dan suara," ujarnya. Cahaya didapat melalui paparan sinar pada meja kaca, sedangkan suara melalui musik Oxytron.

 

*Bersambung...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *