Haruka Shirakawa, Tarot Reader Termuda se-Indonesia (4)

Dalam memelajari tarot, tak hanya kemampuan tekstual dan spiritual yang harus dimiliki Haruka. Kartu tarot pun harus “Diisi” energi spiritual oleh Wen Shi Liem Tiong Yang, papanya.

 

Setelah “Dipilih” dan direstui oleh Dewa Bumi Fu De Zheng Shen pada 2020, hingga saat ini papanya selalu mengarahkan puterinya untuk bersembahyang pada Dewa tersebut.

 

Jika papanya adalah pembimbing spiritual, maka Fu De Zheng Shen adalah pembimbing spiritual Haruka di tingkat yang lebih tinggi lagi. “Kartu tarot yang digenggam Haruka selalu saya letakkan di altar Dewa Bumi. Untuk mengisi energi,” ujar Liem.

 

Saat itu keduanya berada di Kelenteng Boen Bio, Kapasan, Surabaya. Dalam kelenteng tersebut tak ada altar Fu De Zheng Shen. Hanya ada altar Nabi Kongzi. Meski tak ada, pengisian energi tetap bisa dilakukan di hadapan altar Nabi.

 

Sebenarnya bisa untuk memeragakan cara mengisi energi pada kartu tarot di depan altar Nabi. Namun sebelumnya, ia harus meminta izin dahulu.

 

Berhatur sembah di depan altar, kemudian Liem melempar dua bilah poapoe. Hasilnya: disetujui. “Boleh diperagakan,” ungkapnya. Ia pun mengambil kartu tarot milik puterinya.

 

Saat berjalan ke sisi kanan altar, tiba-tiba Liem berhenti sejenak. Kemudian memejamkan mata. Hening. Lantas ia tersenyum pada Haruka. “Saya mendapat “Pesan”. Tidak hanya disuruh memeragakan, tapi sekalian “Diisi” saja,” ujarnya.

 

Berbatang-batang dupa diambil. Dinyalakan, kemudian ia kembali menghaturkan sembah dan menancapkan dupa-dupa itu pada hio lo atau tungku pedupaan. Dua buah kartu tarot diletakkan di sisi kiri dan kanan hio lo.

 

Kedua tangan Liem berputar ke atas, seolah menangkap energi, kemudian mengarahkannya pada kartu-kartu tarot itu. Sejenak kemudian ia kembali menghaturkan sembah. Lantas kembali lagi dan duduk di meja sebelah selatan altar. Apakah sudah selesai mengisi energinya?

 

“Belum. Biarkan di situ dulu selama beberapa saat. Ibarat smartphone, masih nge-charge (Mengisi daya),” terang pria 59 tahun itu.
Saat mengisi energi, cukup banyak jumlah dupa yang digunakan oleh Liem. Dupa dalam jumlah banyak kurang lazim digunakan dalam peribadatan umat Konghucu. “Lha, pesan dari langit mintanya segitu. Dupa sejumlah tiga puluh enam,” ujarnya.

 

Proses mengisi energi tarot

 

Kemudian ia menafsirkan makna 36. Jika 3 dan 6 dijumlah, hasilnya 9. Angka sempurna atau angka Tuhan dalam khasanah numerik spiritual Tiongkok.

 

Sembari menunggu kartu tarot terisi energi, Liem kembali menerangkan perihal chemistry antara dirinya dan Haruka. Namun muncul satu pertanyaan. Apabila kelak Haruka menikah dan tak lagi tinggal bersama papanya, bagaimana kelanjutan proses pembimbingan spiritual itu?

 

“Oh, justru Haruka kelak akan lebih tajam dalam meramal tarot ketika dia sudah punya suami,” ungkapnya. Lalu jika unsur dalam diri suaminya kelak kurang sesuai, atau suami Haruka tak memiliki kemampuan seperti papanya, bagaimana? “Haruka yang akan mencari dan menggali kemampuannya spiritualnya sendiri,” ungkapnya.

 

“Begini, seperti yang saya katakan, dalam mengasah kemampuan metafisika, butuh dualisme Yin dan Yang. Keseimbangan,” tambahnya. Kedua unsur tersebut saat ini ada dalam diri Haruka dan papanya. Kelak, unsur tersebut akan berada dalam diri Haruka dan suaminya. Saling mengisi.

 

Bahkan tak masalah ketika suami Haruka kelak tidak memiliki kemampuan olah metafisika seperti halnya papanya. “Karena kedua unsur tersebut sudah terpenuhi dalam diri suami-istri,” tutur ayah lima anak itu.

 

Di sela perbincangan, tak berapa lama seseorang datang. Menghaturkan salam pai pada Haruka yang sedang bermain gadget di bangku kelenteng. Setelah berbincang sejenak, Haruka menghampiri papanya. “Pite (Panggilan sayang Haruka pada papanya) ada yang minta dibaca. Boleh diambil kartunya dari altar?,” tanyanya.

 

“Kamu tanya sendiri sana. Hormat dan sembah dulu. Lalu lempar poapoe,” suruhnya. “Aku sendiri, Pite? Bukane Pite ae ta yang tanya?,” tanya Haruka. “Wes kamu sendiri ae,” jawab papanya.

 

Haruka pun melakukan apa yang diperintahkan Liem. Menghaturkan sembah, mengambil poapoe dan menjatuhkannya. Hasilnya, dua-duanya tertelungkup.

 

Dia mengambil dua bilah poapoe itu dan menunjukkannya pada papanya. “Pite, dua-duae gini. Ndak boleh, ya?,” tanyanya. Papanya menggeleng. “Berarti masih nge-charge. Tunggu saja beberapa menit. Nanti di-poapoe lagi,” ujarnya.

 

Orang yang tak ingin disebutkan namanya itu diberi tahu bahwa “Langit” belum memerbolehkan Haruka mengambil kartu tarotnya. Terpaksa menunggu. Tapi selagi menunggu, orang tersebut menceritakan permasalahannya pada Haruka. Tentang karier. Dia ingin mengetahui kariernya dalam perusahaan tempatnya bekerja.

 

Anak umur 18 tahun, baru lulus SMA, mendengarkan curhat masalah orang dewasa. Tak sekali itu saja. Klien-klien lain kerap menyodorkan permasalahan orang dewasa. Haruka tak menjawabnya secara langsung sebagaimana seorang psikolog. Dia menjawabnya lewat pembacaan tarot.

 

Metode tersebut memang merupakan langkah awal sebelum seorang klien dibacakan tarot. Haruka harus mengetahui permasalahannya, sehingga dapat menafsirkan simbol-simbol dalam tiap kartu.

 

Satu jam berlalu, Haruka kembali menghampiri papanya. Bertanya tentang kartu tarotnya yang masih di-charge. “Ya'apa, Pite, udah boleh, ta? Orangnya nunggu,” tanyanya. Papanya mengangguk dan menyuruhnya untuk melakukannya lagi.

 

Haruka kembali menghadap altar. Menyembah, kemudian kembali melempar poapoe. Hasilnya, dua-duanya terbuka. Dia berlari kecil ke papanya sembari membawa poapoe tersebut. “Pite, diguyu,” ujarnya polos. Dua bilah poapoe yang terbuka artinya “Ditertawakan”.

 

Papanya tersenyum. “Kalau ditertawakan, berarti masih boleh melempar poapoe sekali lagi. Sana, lempar lagi,” suruhnya. Haruka melakukannya. Jawaban yang tertera sesuai keinginan. Satu menelungkup, satu terbuka. Artinya: Diperbolehkan. Dia mengambil dua kartunya dari altar.

 

*Bersambung

 

Credit foto: Julian Romadhon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *