Beranda

  • Haruka Shirakawa, Tarot Reader Termuda se-Indonesia (4)

    Haruka Shirakawa, Tarot Reader Termuda se-Indonesia (4)

    Dalam memelajari tarot, tak hanya kemampuan tekstual dan spiritual yang harus dimiliki Haruka. Kartu tarot pun harus “Diisi” energi spiritual oleh Wen Shi Liem Tiong Yang, papanya.

     

    Setelah “Dipilih” dan direstui oleh Dewa Bumi Fu De Zheng Shen pada 2020, hingga saat ini papanya selalu mengarahkan puterinya untuk bersembahyang pada Dewa tersebut.

     

    Jika papanya adalah pembimbing spiritual, maka Fu De Zheng Shen adalah pembimbing spiritual Haruka di tingkat yang lebih tinggi lagi. “Kartu tarot yang digenggam Haruka selalu saya letakkan di altar Dewa Bumi. Untuk mengisi energi,” ujar Liem.

     

    Saat itu keduanya berada di Kelenteng Boen Bio, Kapasan, Surabaya. Dalam kelenteng tersebut tak ada altar Fu De Zheng Shen. Hanya ada altar Nabi Kongzi. Meski tak ada, pengisian energi tetap bisa dilakukan di hadapan altar Nabi.

     

    Sebenarnya bisa untuk memeragakan cara mengisi energi pada kartu tarot di depan altar Nabi. Namun sebelumnya, ia harus meminta izin dahulu.

     

    Berhatur sembah di depan altar, kemudian Liem melempar dua bilah poapoe. Hasilnya: disetujui. “Boleh diperagakan,” ungkapnya. Ia pun mengambil kartu tarot milik puterinya.

     

    Saat berjalan ke sisi kanan altar, tiba-tiba Liem berhenti sejenak. Kemudian memejamkan mata. Hening. Lantas ia tersenyum pada Haruka. “Saya mendapat “Pesan”. Tidak hanya disuruh memeragakan, tapi sekalian “Diisi” saja,” ujarnya.

     

    Berbatang-batang dupa diambil. Dinyalakan, kemudian ia kembali menghaturkan sembah dan menancapkan dupa-dupa itu pada hio lo atau tungku pedupaan. Dua buah kartu tarot diletakkan di sisi kiri dan kanan hio lo.

     

    Kedua tangan Liem berputar ke atas, seolah menangkap energi, kemudian mengarahkannya pada kartu-kartu tarot itu. Sejenak kemudian ia kembali menghaturkan sembah. Lantas kembali lagi dan duduk di meja sebelah selatan altar. Apakah sudah selesai mengisi energinya?

     

    “Belum. Biarkan di situ dulu selama beberapa saat. Ibarat smartphone, masih nge-charge (Mengisi daya),” terang pria 59 tahun itu.
    Saat mengisi energi, cukup banyak jumlah dupa yang digunakan oleh Liem. Dupa dalam jumlah banyak kurang lazim digunakan dalam peribadatan umat Konghucu. “Lha, pesan dari langit mintanya segitu. Dupa sejumlah tiga puluh enam,” ujarnya.

     

    Proses mengisi energi tarot

     

    Kemudian ia menafsirkan makna 36. Jika 3 dan 6 dijumlah, hasilnya 9. Angka sempurna atau angka Tuhan dalam khasanah numerik spiritual Tiongkok.

     

    Sembari menunggu kartu tarot terisi energi, Liem kembali menerangkan perihal chemistry antara dirinya dan Haruka. Namun muncul satu pertanyaan. Apabila kelak Haruka menikah dan tak lagi tinggal bersama papanya, bagaimana kelanjutan proses pembimbingan spiritual itu?

     

    “Oh, justru Haruka kelak akan lebih tajam dalam meramal tarot ketika dia sudah punya suami,” ungkapnya. Lalu jika unsur dalam diri suaminya kelak kurang sesuai, atau suami Haruka tak memiliki kemampuan seperti papanya, bagaimana? “Haruka yang akan mencari dan menggali kemampuannya spiritualnya sendiri,” ungkapnya.

     

    “Begini, seperti yang saya katakan, dalam mengasah kemampuan metafisika, butuh dualisme Yin dan Yang. Keseimbangan,” tambahnya. Kedua unsur tersebut saat ini ada dalam diri Haruka dan papanya. Kelak, unsur tersebut akan berada dalam diri Haruka dan suaminya. Saling mengisi.

     

    Bahkan tak masalah ketika suami Haruka kelak tidak memiliki kemampuan olah metafisika seperti halnya papanya. “Karena kedua unsur tersebut sudah terpenuhi dalam diri suami-istri,” tutur ayah lima anak itu.

     

    Di sela perbincangan, tak berapa lama seseorang datang. Menghaturkan salam pai pada Haruka yang sedang bermain gadget di bangku kelenteng. Setelah berbincang sejenak, Haruka menghampiri papanya. “Pite (Panggilan sayang Haruka pada papanya) ada yang minta dibaca. Boleh diambil kartunya dari altar?,” tanyanya.

     

    “Kamu tanya sendiri sana. Hormat dan sembah dulu. Lalu lempar poapoe,” suruhnya. “Aku sendiri, Pite? Bukane Pite ae ta yang tanya?,” tanya Haruka. “Wes kamu sendiri ae,” jawab papanya.

     

    Haruka pun melakukan apa yang diperintahkan Liem. Menghaturkan sembah, mengambil poapoe dan menjatuhkannya. Hasilnya, dua-duanya tertelungkup.

     

    Dia mengambil dua bilah poapoe itu dan menunjukkannya pada papanya. “Pite, dua-duae gini. Ndak boleh, ya?,” tanyanya. Papanya menggeleng. “Berarti masih nge-charge. Tunggu saja beberapa menit. Nanti di-poapoe lagi,” ujarnya.

     

    Orang yang tak ingin disebutkan namanya itu diberi tahu bahwa “Langit” belum memerbolehkan Haruka mengambil kartu tarotnya. Terpaksa menunggu. Tapi selagi menunggu, orang tersebut menceritakan permasalahannya pada Haruka. Tentang karier. Dia ingin mengetahui kariernya dalam perusahaan tempatnya bekerja.

     

    Anak umur 18 tahun, baru lulus SMA, mendengarkan curhat masalah orang dewasa. Tak sekali itu saja. Klien-klien lain kerap menyodorkan permasalahan orang dewasa. Haruka tak menjawabnya secara langsung sebagaimana seorang psikolog. Dia menjawabnya lewat pembacaan tarot.

     

    Metode tersebut memang merupakan langkah awal sebelum seorang klien dibacakan tarot. Haruka harus mengetahui permasalahannya, sehingga dapat menafsirkan simbol-simbol dalam tiap kartu.

     

    Satu jam berlalu, Haruka kembali menghampiri papanya. Bertanya tentang kartu tarotnya yang masih di-charge. “Ya'apa, Pite, udah boleh, ta? Orangnya nunggu,” tanyanya. Papanya mengangguk dan menyuruhnya untuk melakukannya lagi.

     

    Haruka kembali menghadap altar. Menyembah, kemudian kembali melempar poapoe. Hasilnya, dua-duanya terbuka. Dia berlari kecil ke papanya sembari membawa poapoe tersebut. “Pite, diguyu,” ujarnya polos. Dua bilah poapoe yang terbuka artinya “Ditertawakan”.

     

    Papanya tersenyum. “Kalau ditertawakan, berarti masih boleh melempar poapoe sekali lagi. Sana, lempar lagi,” suruhnya. Haruka melakukannya. Jawaban yang tertera sesuai keinginan. Satu menelungkup, satu terbuka. Artinya: Diperbolehkan. Dia mengambil dua kartunya dari altar.

     

    *Bersambung

     

    Credit foto: Julian Romadhon

  • Haruka Shirakawa, Tarot Reader Termuda se-Indonesia (3)

    Haruka Shirakawa, Tarot Reader Termuda se-Indonesia (3)

    Kedekatan ayah-anak menentukan kemampuan Haruka dalam membuka ruang spiritual dalam dirinya. Sehingga berpengaruh pada kemampuan membaca tarot. Maka, Haruka cenderung akrab dengan papanya, Wen Shi Liem Tiong Yang.

     

    Ketika bersantai di Kelenteng Boen Bio, Liem menunjukkan ponsel miliknya yang “Dibajak” oleh puterinya. Dalam percakapan tersebut, mama Haruka, Olivia Yunita sedang menanyakan suaminya sedang dimana. Tiba-tiba terdapat balasan, “Ada apa sih, Ma? Pite (Panggilan sayang Haruka untuk papanya) lagi sama aku,”. Ditambah emote tertawa. Kemudian dilanjutkan dengan percakapan selanjutnya, “Hapeku dibajak Haruka”. Percakapan terakhir ditulis langsung oleh Liem.

     

    Puteri bungsu dari lima bersaudara itu memang sangat dekat dengan papanya. Bahkan mamanya pernah bercerita, saat sedang sakit demam berdarah, Haruka minta ditunggui papanya. “Ngalem kalau sama pite-nya. Kalau sama saya enggak. Mama kerjao aja. Begitu setiap hari,” ujar Olivia. Kemudian tertawa.

     

    Kedekatan itu terjadi karena selain keduanya adalah ayah dan anak, dari sisi spiritual, Haruka bergantung pada papanya untuk belajar. Mengasah kemampuan metafisika demi menguasai tarot.

     

    Sebab, selain papanya bergelar Wen Shi atau guru agama Konghucu, ia juga seorang spiritualis. Unsur diri dari keduanya juga menunjang. Haruka memiliki unsur keberuntungan bumi berupa logam dan unsur kayu sebagai keberuntungan langit. Sedangkan Liem berunsur air-kayu.

     

    Secara unsur, Liem menjelaskan bahwa unsur diri Haruka membutuhkan unsur dari dirinya. Yakni air. Sebab, Haruka kekurangan unsur air. Kebutuhan itu berbuah kedekatan dan ketergantungan.

     

    Maka, untuk memenuhi kebutuhan unsur air, serta sebagai pembangkit aura, Haruka kerap mengenakan pakaian hitam. Warna yang menyimbolkan unsur air.

     

    Tarot yang digemari Haruka memiliki unsur kayu. “Kartu yang dipakai adalah kertas. Kertas berasal dari kayu. Unsur permainan tarot itu kayu,” ungkap Liem. Kemudian jika tarot dibuka, isinya pembacaan tentang nasib manusia. Dalam diri manusia terdapat 75 persen unsur air. “Jadi isi tarot unsurnya air. Tarot bercerita tentang kehidupan. Energi terbesar alam adalah air. Air juga sumber kehidupan,” tambahnya.

     

    Untuk mengasah kemampuan membaca tarot, Haruka butuh penguatan unsur air. Unsur logam sebagai keberuntungan buminya juga harus dibentuk. Seperti halnya sebuah logam dalam dunia nyata. Jika tak diolah atau tak dibentuk, maka logam tersebut tak memiliki arti. “Berkaitan dengan kemampuan Haruka, dia harus terus mengasahnya. Dan harus dibimbing secara intens,” ujar pria 59 tahun itu.

     

    Unsur logam juga melambangkan kecerdasan dan pengetahuan. Menguasai tarot harus diimbangi wawasan secara tekstual sekaligus spiritual. Sebab, tarot sangat berkaitan dengan penafsiran sinyal alam. Energi dari klien yang mengocok kartu tarot akan tersalurkan dalam kartu-kartu tersebut. Sebelum dibaca, saat memilih kartu pun berkaitan dengan energi dan faktor psikologis seseorang.

    Haruka Shirakawa dan kartu tarotnya

     

    Ketika kartu dibuka, maka terdapat berbagai gambar yang masing-masing berisi rangkaian simbol-simbol. Satu kartu bisa diinterpretasikan berbeda sesuai kasus klien yang ditanyakan.

     

    Sedemikian rumitnya menguasai tarot tentu butuh kemampuan tekstual dan metafisik. "Karena apa yang muncul dari tiap kartu sifatnya metafisik. Energi dan konsentrasi klien dijawab oleh sinyal semesta yang memberi gambaran tentang peta perjalanan dirinya," terang ayah lima anak itu.

     

    Ia mengibaratkan, memelajari tarot sama dengan memelajari seni membaca garis tangan. Secara tekstual, membaca garis tangan ada pakemnya. Namun jika didukung dengan kemampuan metafisik, aura dari garis-garis tersebut akan nampak. Sehingga pembacaan nasib seseorang akan lebih jelas dan lebih detail. Berikut menguak sifat pemilik telapak tangan tersebut.

     

    "Kurang lebih sama seperti dokter. Sangat mungkin beberapa pasien yang datang dengan keluhan sama, namun penanganannya berbeda-beda," ujarnya. Perbedaan penanganan itu dilihat dari faktor usia, berat badan dan sebagainya. Kemudian ditentukan jenis obat serta kadarnya.

     

    Sama halnya dengan tarot reader. Butuh kemampuan menginterpretasi arti dari satu jenis kartu. Sebab, energi dari tiap klien berbeda satu sama lain. Apa yang dialami sekaligus latar belakang terjadinya masalah pun beragam. Meski secara garis besar kasusnya sama. Maka kartu yang muncul dari tiap klien pasti berlainan. Sekali pun muncul satu atau dua kartu yang sama, memaknai atau menafsirkannya bisa sangat berbeda.

     

    "Sekali lagi, jawaban dari kartu tarot itu layaknya peta. Kalau kita mau menuju sebuah tempat, terdapat berbagai jalan alternatif. Dengan kata lain, jawaban yang muncul dari pembacaan tarot, meski terlihat pelik, akan selalu menguak solusi-solusi. Tinggal klien mau memilih menjalankan solusi yang mana," terangnya.

     

    "Kalau muncul kartu death, biasanya enggak ada solusi. Tapi kartu death jarang sekali muncul, sih," sahut Haruka. Dia berpikir sejenak. Kemudian melanjutkan, "Bukan, bukan artinya enggak ada solusi sama sekali. Kalau keluar kartu death, maka masalah sudah mentok. Solusinya, manusia harus menghadapi secara apa adanya," ujar gadis 18 tahun itu.

     

    Bisa pula dimaknai, jika muncul kartu death, pada kasus-kasus tertentu, misalnya seseorang yang membuka usaha tapi macet, artinya usaha tersebut sudah tak memiliki harapan. Solusinya, banting setir. Membuka usaha lain. "Nah, itu lho artinya. Tarot tidak bisa dimaknai secara harafiah. Kalau cuma tekstual, bisa-bisa diartikan "Mati" begitu saja. Padahal pasti ada solusinya. Makanya saya dilatih Pite untuk menafsirkan," ujarnya.

     

    Maka, chemistry antara ayah dan anak sebagai guru dan murid harus benar-benar terbangun. Keduanya harus memiliki pola pikir dan frekuensi energi yang selaras dalam spiritual. "Energi alam bawah sadar Haruka selalu mencari kesamaan frekuensi dalam diri saya. Yin dan Yang. Saling melengkapi," ungkapnya.

     

    Pelajaran dan bimbingan yang diberikan oleh papanya wajib diterima dengan sungguh-sungguh oleh Haruka dan tanpa penolakan. "Memasukkan atau transfer ilmu metafisik, konsepnya harus tanpa perlawanan dan penolakan dari penerima. Sekali saja ditolak, maka keterkaitan energi di antara kami akan buyar. Haruka akan gagal," terangnya.

     

    Di sisi lain, kartu tarot yang dipegang Haruka bukanlah kartu biasa. Kartu tersebut telah diisi energi. Beberapa kali papanya selalu bersembahyang dan mentransfer energi dengan meletakkan kartu tarot di altar Fu De Zheng Sheng. Dewa Bumi yang memilih Haruka pada 2020.

     

    *Bersambung.....

     

    (Credit Foto: Julian Romadhon)

  • Haruka Shirakawa: Tarot Reader Termuda se-Indonesia (2)

    Haruka Shirakawa: Tarot Reader Termuda se-Indonesia (2)

    Menjadi tarot reader pada usia belia tentu tak mudah. Haruka Shirakawa telah melalui berbagai tahapan dan bimbingan spiritual dari papanya, Wen Shi Liem Tiong Yang.

     

    Dewa Bumi Fu De Zheng Sheng memilih Haruka sebagai pembawa patungnya. Diambil dari Kelenteng Hok Swie Bio, Bojonegoro, untuk dibawa ke Kelenteng Ba De Miao, Surabaya. Dia terpilih berkat pesan metafisik yang diterima oleh papanya.

     

    Namun sepanjang perjalanan pulang dari Bojonegoro ke Surabaya, pada 2020, Haruka mengalami keanehan. Di dalam mobil, dia terus bernyanyi dan bernyanyi. Tanpa henti. Dengan patung Fu De Zheng Sheng yang berada di sisinya.

     

    Selama 3 jam Haruka terus bernyanyi. Berhenti sejenak ketika mamanya, Olivia Yunita, bertanya tentang keanehan puterinya itu. Olivia khawatir, namun, Liem segera menenangkannya. “Jarno ae. Wes menengo ae ma, gak opo-opo,” ujarnya. Ia berkata bahwa Olivia tak perlu khawatir. Karena gelagat itu baginya adalah hal yang wajar.

     

    “Energi dari patung yang sudah di-kiemshin atau disucikan, sedang proses sinkronisasi dengan energi Haruka. Dampaknya seperti itu,” ujar Liem, ketika ditemui bersama puterinya di Kelenteng Boen Bio, Kapasan, Surabaya.

     

    Bahkan saat itu Haruka tak merasa haus sama sekali. Meski sudah bernyanyi selama 3 jam. “Aku juga ndak tahu. Kok tenggorokanku bisa kuat ya nyanyi selama itu?,” ujar Haruka polos. Yang ada dalam perasaannya ketika itu hanya ingin menghibur Dewa Bumi. “Entah, pokoknya ingin hibur Kongco Fu De Zheng Shen. Itu saja,” tambahnya.

     

    Ketika tiba di Surabaya, sebelum dibawa ke Kelenteng Ba De Miao di Royal Residence, Surabaya, patung tersebut diletakkan terlebih dulu di Kelenteng Boen Bio, Kapasan. Setelah patung diletakkan di kelenteng, Haruka sudah tak bernyanyi lagi. Kembali jadi remaja ceria dan lugu seperti biasanya.

     

    Pengalaman keterpilihan itu membuat papanya semakin yakin akan potensi puterinya. Terlebih, sejak kecil Haruka sudah tertarik dengan ilmu fengshui. Dia kerap mendampingi ketika Liem menerima klien. "Juga sering bertanya. Bahkan memberi contoh kasus. Misalnya, posisi rumah dan penataan interior seperti ini, apakah baik atau buruk. Bila buruk, harus bagaimana, dan sebagainya," ungkap pria 59 tahun itu.

     

    Saat duduk di bangku SMP, tepatnya pada 2017, Haruka mulai tertarik dengan tarot. Mulanya dia sedang berselancar menggunakan YouTube. " Tiba-tiba muncul di beranda, tentang video orang yang meramal tarot. Saya penasaran. Kok asyik," ujar remaja 18 tahun itu.

     

    Dengan tarot, peramal yang dilihatnya itu mampu memprediksi beberapa kejadian. Bahkan orang itu membuka sesi ramalan berbayar. Banyak orang konsultasi dan dijawab dengan terlebih dahulu mentransfer sejumlah uang ke rekening. "Aku kan cuma anak sekolah. Masih SMP. Daripada duit dihambur-hamburin buat diramal, mending belajar sendiri. Ya, to? Terus saya tanya Pite (Panggilan sayang pada papanya). Mungkin nggak kalau aku belajar tarot? Katanya bisa," ujarnya.

     

    Namun, menguasai tarot tidak bisa sembarangan. Butuh aspek spiritual untuk meningkatkan ketajaman analisa dan prediksi.

     

    Tarot berurusan dengan alam bawah sadar klien, yang mentransfer energinya ketika mengocok kartu. Kemudian energi semesta menjawabnya pada tampilan-tampilan kartu yang dipilih. "Energi dan fokus menentukan jawaban yang muncul. Sedangkan kemampuan memrediksi dan menganalisa, bukan dipelajari secara tekstual. Seorang tarot reader harus memiliki insting dipadu dengan kemampuan metafisika," ujar Liem.

     

    Maka, untuk membantu Haruka meraih impiannya sebagai tarot reader, Liem menjadi pembimbing baginya. Yang dilakukan pertama kali adalah membangun chemistry antara ayah dan anak. Sebab, jika Haruka memelajari segala sesuatunya sendiri, maka dia hanya berkutat dengan satu unsur dalam dirinya saja dan akan sulit belajar. Sedangkan konsep keseimbangan dalam khasanah metafisik Asia, butuh dua unsur. Yin dan Yang. "Di mana letak unsur satunya? Ada di saya. Saya yang membuka kemampuan spiritualnya," ungkap Liem.

     

    WS Liem Tiong Yang, ayah Haruka Shirakawa

     

    Caranya adalah dengan membangkitkan cakra dalam diri Haruka. Metode memaksimalkan cakra dalam tubuh biasa ditemui dalam olah yoga ala India. Dalam bahasa sansekerta, cakra berarti pusat-pusat letak energi dalam berbagai titik tubuh manusia yang dilambangkan dengan bentuk roda (cakram).

     

    Selama ini konsep cakra tubuh manusia masih diperdebatkan. Bahkan dianggap sebagai pseudo sains. Atau metodologi yang dianggap ilmiah, namun tak sesuai kaidah ilmiah. Tapi, Haruka membuktikan bahwa apa yang diajarkan oleh papanya terbukti dan dapat dirasakan secara langsung. Dampaknya berkaitan dengan kemampuan pembacaan tarot yang dialami saat ini. "Setelah digembleng sama Pite, ya terasa banget. Menganalisa bisa cepat, apalagi menghapal tiap gambar dan menginterpretasi tiap kartu yang jumlahnya lebih dari seratus," ujar bungsu lima bersaudara itu.

     

    Dalam proses penggemblengan spiritual, Haruka diwajibkan untuk lebih mendekatkan diri dengan Tuhan. Beribadah rutin serta menjalankan meditasi. Dalam keheningan meditasi, dia mengaku mengalami beberapa kejadian. Penampakan-penampakan gambar berkelindan dalam mata batinnya, yang menurutnya, gambar itu muncul karena kondisi psikis seseorang. "Bukan mistik, ya. Lebih pada halusinasi. Tapi kalau mau bilang sisi mistiknya, itu adalah ujian dari semesta. Ngetes, apa saya khusyuk atau tidak," ungkapnya.

     

    "Betul. Jika dalam meditasi terlihat penampakan-penampakan, sebaiknya hiraukan saja. Itu tandanya sedang diuji," ujar Liem. Misalnya, seseorang yang takut hantu, maka dalam meditasinya benar-benar muncul hantu.

     

    Lalu penampakan apa yang muncul ketika Haruka bermeditasi? "Pemandangan gunung-gunung dan pantai. Pokoknya yang indah-indah. Mungkin karena aku kurang piknik, ya?," ujarnya. Kemudian tertawa.

     

    Jika hanyut dalam penampakan, maka meditasi gagal. Meditasi yang berhasil adalah ketika kondisi seseorang berada dalam keheningan total. Tanpa ada pikiran atau kepentingan yang masih bersemayam dalam benak. Tanpa ada ketakutan.

     

    *Bersambung....

     

    (Credit Foto: Julian Romadhon)

  • Haruka Shirakawa, Tarot Reader Termuda di Indonesia (1)

    Haruka Shirakawa, Tarot Reader Termuda di Indonesia (1)

    Haruka Shirakawa adalah remaja istimewa. Di usianya yang masih belia, dia menjadi seorang tarot reader. Kemampuan spiritual Haruka sebenarnya telah disadari oleh ayahnya. Mulai lebih terasah sejak dia diajak ke Kelenteng Hok Swie Bio, dan dipilih oleh Dewa Bumi.

     

    Kelenteng Boen Bio, Kapasan, siang pukul sepuluh, Haruka mendampingi papanya, Liem Tiong Yang. Mereka menghadiri acara bersih-bersih kelenteng yang dilakukan oleh para personel Brimob Polda Jatim.

     

    Seperti remaja seusianya, dia tampak ceria. Tahun ini Haruka baru saja menamatkan studi di SMA YPPI 2. “Barusan saya pergi ke sekolah pukul 9 pagi. Sekadar tandatangan ijazah dan cap tiga jari. Terus langsung kemari, ” ujarnya. Saat itu dia mengenakan pakaian serba hitam dan sebuah tas.

     

    Dalam tas tersebut, dompet dan dua buah kartu tarot tak pernah ketinggalan. Sebab, sewaktu-waktu kawan papanya, sebagian umat kelenteng atau beberapa klien datang. Minta dibacakan tarot.

     

    Papanya sebenarnya telah cukup lama menyadari potensi spiritual Haruka. Ia tahu bahwa Haruka berbeda dengan anak sebayanya. Potensi itu baru benar-benar terkuak ketika puterinya diajak ke Kelenteng Hok Swie Bio di Bojonegoro. “Waktu itu kami hendak menyucikan patung Fu De Zheng Shen, Dewa Bumi, untuk diambil dan dibawa ke Kelenteng Ba De Miao, di Royal Residence, Balas Klumprik,” ujarnya.

     

    Ketika itu Liem datang bersama rombongan pengurus Kelenteng Boen Bio dan Ba De Miao. Perjalanan ke Kelenteng Hok Swie Bio dari Surabaya memakan waktu sekitar 3 jam. Haruka saat itu hanya sekadar ikut. Tak ada maksud apa pun.

     

    Saat khusyuk memimpin persembahyangan di Kelenteng Hok Swie Bio, di hadapan patung Fu De Zheng Sheng, Liem mendapat pesan metafisik. “Dari Kongco Fu De Zheng Sheng. Kongco minta dicarikan anak muda,” ungkapnya.

     

    Anak muda yang diinginkan Dewa Bumi itulah yang diizinkan membawa patung suci dari Kelenteng Hok Swie Bio ke Ba De Miao. “Saat itu saya bingung. Anak muda? Di situ yang paling muda hanya Haruka,” ujar pria 59 tahun itu.

     

    Ada pun orang yang dianggap muda, beberapa berstatus telah menikah. Permintaan Dewa Bumi saat itu cukup unik, karena berbeda dengan gambaran paras Dewa tersebut dalam patungnya. “Fu De Zheng Sheng digambarkan sebagai pria sepuh. Berjanggut putih. Kali itu beliau kok meminta anak muda? Pasti ada pesan terselubung,” katanya.

     

    Maka, untuk memenuhi permintaan Dewa Bumi, Liem memanggil empat orang yang usianya relatif muda. Kemudian ia menoleh kembali pada puterinya, Haruka, yang saat itu sedang asyik makan siang. “Saat itu saya membatin: masa Haruka, sih? Tapi apa salahnya dicoba,” ungkapnya. Haruka pun ikut dipanggil.

     

    “Ya saya kaget. Masa Kongco mau pilih saya? Yang lain bajunya baru semua. Saya waktu itu mengenakan baju lama. Baju seadanya,” terang Haruka. Biasanya, jika membawa patung Dewa yang telah disucikan, pembawa patung harus dalam keadaan bersih. Pakaiannya pun sebaiknya baru.

     

    Maka, Liem menjajarkan kelima orang itu. Dari kanan ke kiri. Ia kemudian mengambil poapoe. Yakni piranti berbentuk mirip cangkang kerang. Sisi atas menyembul, sisi bawah datar.

     

    Haruka Shirakawa, tarot reader termuda se-Indonesia

     

    Poapoe lazimnya dilemparkan untuk meminta izin sebelum memulai persembahyangan, atau meminta izin kepada Dewa. Jika setelah dilempar dua benda itu sama-sama menelungkup, atau sisi tebalnya berada di atas, maka tandanya tak disetujui sama sekali.

     

    Jika dua benda itu dalam posisi terbuka, atau sisi tebalnya sama-sama berada di bawah, maka artinya “Ditertawakan” atau tak disetujui. Namun jika dua-duanya dalam posisi satu menelungkup dan satu terbuka, artinya direstui.

     

    Saat itu Liem memberitahu kelima orang itu. Bahwa masing-masing dari mereka hanya melempar poapoe satu kali saja di hadapan altar secara berurutan. “Jika pada urutan kesekian poapoe menunjukkan hasil direstui, maka peserta lainnya gugur,” ungkapnya. Semua mengangguk setuju.

     

    Para kandidat bersiap. Liem memberikan poapoe tersebut pada kandidat pertama. Poapoe digenggam dan terlebih dulu didoakan dengan cara diasapi dupa di atas hio lo atau tungku pedupaan. Setelah usai, poapoe dilempar. Jatuh. Hasilnya ditolak. Kandidat pertama gugur.

     

    Poapoe kemudian dilempar oleh kandidat kedua. Ternyata hasilnya ditolak juga. Hasil yang sama didapatkan oleh peserta ketiga dan keempat. Lalu tiba giliran Haruka.

     

    Sejenak Liem berdiri di depan puteri bungsunya tersebut. Ia masih ragu. Apakah puterinya itu sosok yang dipilih oleh Fu De Zheng Sheng?
    Liem menatap mata puterinya, lantas Haruka melempar poapoe ke lantai. Satu menelungkup, satu terbuka. Artinya: direstui. Papanya melihat hasil tersebut dan heran. Ia masih tak percaya. Tapi hasil menunjukkan bahwa Haruka yang terpilih. Liem menatap Haruka, lantas menyentuh pundak anak tersebut. Kemudian berkata, “Berarti memang kamu yang diinginkan Kongco Fu De Zheng Sheng”.

     

    Haruka tak kalah heran. “Pite (panggilan sayang pada papanya) bilang aku yang dipilih. Waktu itu tahun 2020. Usiaku masih 16 tahun. Kan sebenere belum bisa dibilang “Orang muda”. Usia segitu belum boleh urus SIM, lho,” ujarnya lugu. Kemudian tertawa.

     

    Apa boleh buat. Karena Fu De Zheng Sheng sudah berkehendak, maka Haruka yang bertugas membawa patung Dewa Bumi tersebut.
    Dari peristiwa itu Liem semakin meyakini potensi spiritual puterinya. Terlebih, sejak 2017, anak itu telah tertarik belajar ilmu fengshui dengannya dan memelajari tarot lewat media sosial.

     

    Saat pulang ke Surabaya, Haruka duduk di kursi mobil paling belakang. Sendirian bersama patung Fu De Zheng Sheng di sisinya. Keanehan terjadi. Sepanjang perjalanan Haruka tak berhenti bernyanyi.
    Selama 3 jam dia terus bernyanyi. Ketika ditanya mamanya, Haruka menjawab, “Aku lagi pengen nyanyi ae. Buat menghibur Kongco”. (Guruh Dimas Nugraha)

     

    *Bersambung...

     

    Credit foto: Julian Romadhon

  • Menguak Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem (3)

    Menguak Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem (3)

    Pemrakarsa terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem adalah Mas Subki Azal Tsani. Dalam hal pengerjaan instrumental Oxytron, Mas Subki melibatkan Indra Qadarsih, ex keyboardis Slank yang kini tercatat sebagai keyboardis BIP. Putra mendiang artis Titi Qadarsih itu juga kerap sharing seputar manfaat Oxytron pada masyarakat umum.

     

    Untuk membantu pasien mencapai kondisi rileks, membutuhkan bantuan musik rileksasi. Terapis Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem, Oktovan Iwan Priswanto, memanfaatkan instrumen Oxytron. "Musik instrumentalia relaksasi itu digagas oleh Mas Subki. Penggarapan pola musiknya melibatkan keyboardis Indra Qadarsih," ungkapnya.

     

    Oxytron merupakan singkatan dari "Oksigen" atau "Oxygen" dan "Elektron". Dua hal tersebut sangat dibutuhkan oleh tubuh manusia. Oksigen diperlukan sel untuk mengubah glukosa menjadi energi yang dibutuhkan untuk melakukan berbagai aktivitas, seperti aktivitas fisik, penyerapan makanan, membangun kekebalan tubuh, pemulihan kondisi tubuh, juga penghancuran beberapa racun sisa metabolisme.

     

    Sedangkan elektron atau elektrolit, merupakan mineral dalam tubuh yang memiliki muatan energi. "Sehingga tak jarang kita menemukan minuman ber-elektrolit," ungkapnya. Kandungan elektrolit berada pada darah, urine, dan cairan tubuh. Jika elektrolit seimbang, maka dapat memudahkan kerja otot, darah, dan fungsi tubuh yang lain. Elektrolit yang dibutuhkan tubuh adalah natrium, kalsium, kalium, klorida, fosfat, dan magnesium. Lazimnya, sumber elektrolit diperoleh melalui makanan dan minuman yang dikonsumsi.

     

    Para Pasien Terapi Abah Iwan di Pakis Tirtosari

     

    Namun, musik pun dapat meningkatkan kadar oksigen dan elektrolit dalam tubuh manusia. "Frekuensi dalam musik Oxytron diatur sedemikian rupa agar selain rileks, juga meningkatkan kadar oksigen dan elektron," ujarnya.

     

    Selain meningkatkan dua kadar tersebut dalam tubuh, rupanya musik relaksasi Oxytron dapat meningkatkan kadar oksigen pula untuk lingkungan sekitar. "Maka ketika sedang diterapi di atas meja cahaya, meski ruangannya tertutup tapi tak terasa pengab. Sebab, kadar oksigen meningkat berkat frekuensi yang dihasilkan musik tersebut," ujar pria 46 tahun itu.

     

    Hawa sejuk dalam ruangan terapi Abah Iwan yang tertutup rapat itu terjadi karena frekuensi musik Oxytron menarik ion negatif yang betebaran di lingkungan ruangan tersebut. Sehingga hawa panas, lembab, pengab yang lazim ada dalam ruangan tertutup tak terasa sama sekali.

     

    Peningkatan kadar oksigen dalam lingkungan dan tubuh terjadi karena frekuensi instrumen musik telah diatur sedemikian rupa. Khasanah penelitian ilmiah pun banyak menuliskan manfaat terapi musik, bahkan musik dapat digunakan pula dalam berbagai hal, seperti peternakan dan pertanian.

     

    "Jika dalam sebuah peternakan ayam, misalnya, disetel musik relaksasi, maka dapat menghindarkan stress pada hewan. Tumbuhan pun begitu. Jika diletakkan musik relaksasi di sampingnya, dapat tumbuh lebih subur," ujarnya.

     

    Mas Subki sebagai kreator Oxytron telah memelajari dan melakukan penelitian panjang tentang khasiat musik selama bertahun-tahun hingga memicu ketertarikan Indra. Ia pun memutuskan berkecimpung dalam Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem.

     

    Melalui akun instagram, Indra banyak meladeni siapa pun yang ingin berkonsultasi soal musik Oxytron. Ia kerap menguraikan beberapa judul instrumen Oxytron untuk menyembuhkan penyakit-penyakit tertentu. "Selain itu musik ini dapat mengikat ion negatif dalam tubuh maupun dalam lingkungan. Sekaligus menciptakan gelombang elektromagnetik yang bisa memengaruhi kondisi tubuh," tulisnya dalam kolom komentar, menanggapi seorang penanya.

     

    Musik Oxytron Manunggaling Kawula Gusti, misalnya. Jika diperdengarkan, pasien yang mengalami keluhan cukup berat akan merasakan getaran pada kulit dan jari-jari kaki. "Betul, saya waktu awal diterapi merasakan getaran itu. Rasanya seperti kesemutan," ujar Nining Yus, salah seorang pasien. Ketika dua-tiga kali diterapi, dia tak merasakannya lagi.

     

    Getaran tersebut adalah efek dari gelombang elektromagnetik itu. "Musik Oxytron adalah bentuk terapi pengobatan tanpa residu. Hanya pakai frekuensi saja," ujar Abah Iwan. Besar kecilnya kadar elektromagnetik yang dihasilkan oleh musik Oxytron, dihasilkan oleh gelombang suara yang berkaitan dengan pemilihan notasi, karakter suara, tempo, volume dan frekuensi.

     

    Maka wajar bila Oxytron sebagai media penyembuh memiliki beberapa judul instrumen yang khusus untuk diperdengarkan oleh pasien yang memiliki jenis penyakit tertentu. "Bukan musik brainwave. Mas Subki dan Indra memakai synthesizer, mengatur harmoni dan frekuensi yang selaras dengan frekuensi semesta atau alam sekitar," ujar ayah empat anak itu.

     

    Anak kecil pun dapat merasakan manfaatnya

     

    Maka, selain sebagai relaksasi, juga sebagai penyelaras energi dalam tubuh yang dapat membantu kinerja metabolisme. Karena khasiatnya, banyak pasien yang tertolong dengan menjalani terapi Teknologi Resonansi Metafakta ST menggunakan media musik, meja cahaya dan tongkat. Migrain, flu, alergi dapat disembuhkan. Termasuk penyakit berat seperti jantung, stroke hingga kanker.

     

    Jika ingin merasakan khasiat musik Oxytron secara maksimal, dapat mencoba mengikuti terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem, atau mendengarkan melalui live performance yang biasanya dilakukan oleh Indra. "Rencananya nanti bulan Juni ada pementasan Oxytron di Jombang," ungkap Abah Iwan. Namun jika tak sempat, siapa saja yang tertarik dapat membeli instrumental Oxytron tersebut langsung pada Indra maupun via e-commerse.

     

    Tapi tak jarang orang menganggap metode terapi Abah Iwan sebagai klenik atau mistik. Malah Indra pun sempat dianggap membuat musik mistik. "Padahal penggagas terapi ini telah melakukan penelitian panjang. Berlandaskan jurnal ilmiah kesehatan. Sangat ilmiah dan terukur. Tak ada nuansa klenik," ungkapnya.

     

    Begitu pun terapi cahaya. Meja yang digunakan adalah meja beratap kaca dengan gambar membentuk pola bintang segi delapan, yang tiap sudutnya memendarkan cahaya yang mampu menyesuaikan pola frekuensi energi pada tubuh. Paduan metode terapi tersebut dapat membuat frekuensi diri seseorang dapat selaras dengan frekuensi semesta. Serta dapat terhindar dari geophatic stress.

     

    *Bersambung...

  • Menguak Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem (2)

    Menguak Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem (2)

    Metode terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem dilakukan menggunakan tiga hal. Pertama, tongkat, untuk mendiagnosa penyakit serta mensinkronkan getaran energi dalam metabolisme tubuh. Kedua, menggunakan paparan cahaya untuk memperkuat energi dalam tubuh serta membangkitkan sistem imun. Ketiga, menggunakan musik Oxytron untuk relaksasi serta pengobatan.

     

    Sebagai terapis, Oktovan Iwan Priswanto, yang akrab disapa Abah Iwan menggunakan tiga metode untuk menerapi pasien. Langkahnya cukup mudah dan praktik terapinya sangat ringan. Tak memberi rasa sakit seperti dipijat atau ditusuk jarum. Hanya ditodong dengan tongkat dan disuruh berbaring saja di atas meja.

     

    "Mbak Nining Yus misalnya, rutin terapi di sini. Tiga kali terapi saja sebenarnya sudah sembuh. Tapi beliau masih mau terapi lagi," ungkap Abah Iwan, sembari menunjuk salah satu pasiennya. Perempuan itu pernah didiagnosa MIUM. "Kalau menstruasi terasa sakit. Ada tonjolan MIUM sebesar 6cm. Tapi setelah terapi sudah jauh membaik," ujarnya.

     

    Sebelum diterapi, terlebih dulu Abah Iwan mengajak diskusi pada pasiennya. Bertanya tentang keluhan dan pengobatan yang pernah dilakukan. Proses itu pun berlangsung dengan santai dan rileks. Maka tak heran rumah miliknya di Pakis Tirtosari didesain memiliki dua fungsi sekaligus. Sebagai rumah terapi sekaligus kafe. "Kan ngobrol tentang keluhan bisa lebih santai. Sambil minum kopi," ungkapnya.

     

    Setelah diajak berdiskusi, pasien diajak masuk ke ruang terapi. Di dalam ruang yang terletak di sebelah barat itu, terdapat semacam meja persegi yang cukup lebar. Saat itu tertutup kain hijau. Saklar di tiang pancang ruangan dinyalakan dan muncullah pendaran sinar berwarna-warni dari meja tersebut. Ketika penutup meja dibuka, tampak gambar bintang segi delapan. Masing-masing sudutnya beraksara Arab dengan masing-masing lampu di dalamnya bercahaya remang.

     

    Proses Terapi

    Saat melakukan terapi, Abah Iwan mengenakan jas terapisnya yang berwarna biru dengan bawahan celana panjang hitam. Sangat formal. Pakaian itu memang lazim dikenakan oleh terapis Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem. Mengesankan bahwa meski metode pengobatan tersebut dihasilkan oleh kalangan pesantren, namun praktiknya tak mencirikan kekhasan satu agama tertentu. "Ini pengobatan untuk semua orang. Tak ada kekhususan harus agama apa atau suku apa. Seperti dokter, kalau pasien datang, yang ditanya penyakitnya. Bukan agamanya," ujarnya.

     

    Sebelum membaringkan pasien dalam meja terapi, Abah Iwan terlebih dulu berdoa. Kemudian menyetel timer kecil di tangannya, untuk mengatur waktu terapi. Penentuan waktu tergantung seberapa parah penyakit pasien tersebut. Jika ringan, hanya berbaring selama 10 menit. Jika berat, 20-30 menit.

     

    "Silahkan," pinta Abah Iwan kepada Nining. Dia pun melangkah ke meja kemudian berbaring. Posisi tangannya telentang sesuai sudut bintang. Telapak tangan menyentuh meja. Sedangkan posisi kaki sedikit mengatup. Kemudian Abah Iwan meletakkan beberapa tongkat di beberapa bagian tubuh seperti kaki, lengan dan leher. "Rileks saja ya. Biar lebih santai sambil dihayati musiknya," ujarnya.

     

    Ia membunyikan musik bernuansa instrumental. Cenderung dominan warna suara keyboard yang mengalun, dengan musik latar panjang seperti bunyi gelombang laut yang tenang. Perpindahan antar kordnya berlangsung beberapa kali namun perpindahan tersebut terjadi secara sayup dan hampir tak terasa, dengan aksentuasi petikan-petikan nada yang sayup pula.

     

    Mendengarkan musik, yang disebut Abah sebagai musik Oxytron berjudul Manunggaling Kawula Gusti itu membuat hati tenang. Dalam ruangan tertutup yang harusnya lembab dan pengab, tanpa celah ventilasi, justru angin terasa penuh dan berputar-putar layaknya sedang berada dalam ruangan terbuka. Aneh, memang.

     

    Ketika Nining berbaring dan memejamkan mata, Abah Iwan memegang satu tongkat dan beranjak dari sudut ke sudut. Di tiap perhentian ia menyorongkan tongkatnya ke tubuh Nining. Namun tak mengenainya. Ketika itu ia berhenti dan terdiam cukup lama. Terkadang tangannya terlihat bergetar.

     

    Sampai pada bagian kaki, Abah Iwan menyentuhkan ujung tongkat tersebut ke telapak kaki Nining. Yang bersangkutan terlihat membuka matanya. Mungkin sedikit terkejut merasakan sentuhan tongkat tersebut. Abah Iwan kembali terdiam sambil memegang tongkatnya. Sebelum terapi, ia menyebut bahwa dengan tongkat tersebut Abah Iwan mampu merasakan kadar oksigen serta gerak energi dalam metabolisme tubuh pasiennya. Kemudian membantu mensinkronisasikan energi-energi tersebut.

     

    Selama 21 menit terapi itu dilakukan. Nining pun nyaris tertidur karena musik Oxytron yang didengarnya. Saat selesai, timer yang dipegang Abah Iwan berbunyi. "Sudah selesai. Jangan lupa ucap alhamdullilah delapan kali," ungkapnya pada Nining. Karena pasien tersebut muslim, maka dia mengucap alhamdulillah. Bila non-muslim, Abah Iwan selalu menganjurkan mereka untuk mengucap syukur dalam doa versi mereka masing-masing.

     

    Ramuan Herbal

     

    Setelah melakukan terapi, Nining kembali duduk di kafe tersebut. Selagi menunggu, Abah Iwan membuatkan ramuan herbal untuknya. Pengobatan alternatif tersebut selain melakukan terapi, juga menyediakan herbal. Dapat dikonsumsi secara oral maupun inhalasi, atau dengan cara dihirup.

     

    Menurut Abah Iwan, pengobatan secara inhalasi lebih merasuk dalam tubuh manusia. Herbal baik yg berbentuk asap maupun diseduh airnya. Sistem pengasapan. "Karena partikel-partikel dalam asap lebih cepat masuk dalam sistem peredaran darah manusia. Dibanding herbal yang bersifat cairan. Karena cairan harus dicerna dulu oleh tubuh. Baru setelah itu memasuki proses metabolisme," ujar pria 46 tahun itu.

     

    Di sisi lain, sistem imun tubuh berada pada lapisan supervisial atau lapisan terluar dalam jaringan organ. Maka pengobatan seperti inhalasi dapat bekerja lebih optimal. Selain itu pengobatan inhalasi dapat membantu sinkronisasi energi di dalam tubuh. "Jadi pada dasarnya ramuan tersebut mendukung kesembuhan setelah pasien diterapi menggunakan cahaya dan suara," ujarnya. Cahaya didapat melalui paparan sinar pada meja kaca, sedangkan suara melalui musik Oxytron.

     

    *Bersambung...

  • Menguak Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem (1)

    Menguak Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem (1)

    Di Jalan Pakis Tirtosari, Surabaya, terdapat pengobatan alternatif dengan metode unik. Yakni memanfaatkan penataan frekuensi energi tubuh. Disebut sebagai Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem. Bukan klenik, terapi tersebut justru berlandaskan pedoman ilmiah tentang ilmu energi dan keterkaitannya dengan kesehatan.

     

    Tubuh manusia dan sistem metabolismenya merupakan rangkaian getaran frekuensi yang menciptakan tenaga gerak, emosi dan sebagainya. Jika frekuensi energi tersebut tak seimbang, maka manusia dapat mengalami kecemasan, sedih atau gangguan-gangguan metabolisme lainnya.

     

    Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem merupakan sistem pengobatan yang berbasis pengaturan energi dalam tubuh. Bertujuan untuk mengharmoniskan frekuensi getaran energi tersebut. Terapi itu terletak di Jalan Pakis Tirtosari 7 no.6, Surabaya. Pengampunya adalah Oktovan Iwan Priswanto.

     

    "Memakai kata resonansi, karena getaran energi dalam tubuh manusia dapat saya rasakan. Kemudian saya sinergikan agar tidak mengacaukan metabolisme," ungkap pria yang akrab disapa Abah Iwan itu. Intinya, melalui pengaturan energi tersebut, sistem tubuh dapat tertata kembali. Energi negatif di dalamnya, seperti bakteri atau virus dapat dihilangkan. "Karena penataan energi metabolisme otomatis memperkuat pula pertahanan tubuh," tambahnya.

     

    Metodenya menggunakan dua macam terapi. Yakni menggunakan tongkat khusus untuk mengetahui jenis penyakit dan mengobatinya, serta terapi cahaya. Yakni menggunakan meja khusus dengan lampu yang ditempatkan di beberapa sudut. Metode tambahan adalah menggunakan terapi musik Oxytron. Sebuah musik relaksasi yang membantu penyelarasan frekuensi energi di dalam tubuh.

     

    "Metode kami ilmiah dan bukan klenik. Kami juga berlandaskan jurnal-jurnal ilmiah tentang pemanfaatan energi untuk kesehatan. Founder terapi ini, Mas Subki Azal Tzani, juga telah melakukan penelitian serius sebelum merilisnya pada 2014," ungkapnya. Abah Iwan memberi contoh metode terapi frekuensi energi tersebut.

     

    Abah Iwan, Terapis Sehat Tentrem

     

    Orang yang menderita penyakit organ kepala atau tenggorokan, yang perlu ditata adalah frekuensi energi elemen ether dalam tubuh. "Dapat dirasakan, bahwa getaran frekuensi penderita sakit kepala atau tenggorokan berada dalam frekuensi 2 hingga 7hz," terangnya. Sedangkan sistem metabolisme yang sehat untuk kepala dan tenggorokan, lazimnya berada dalam frekuensi 1/6hz untuk organ kepala. Untuk tenggorokan adalah 1/5hz. "Ya diatur energi tubuhnya untuk mencapai frekuensi yang lazim. Maka dia bisa terbebas dari rasa sakitnya," tambahnya.

     

    Ada pula pemanfaatan frekuensi energi dalam tubuh manusia untuk mengetahui jenis penyakit dan penyebabnya. Alergi, misalnya. Alergi, menurut Abah Iwan ada kalanya disebabkan oleh pengaruh masa kecil. Sesuatu yang dilarang oleh orang di sekitarnya, mengendap dalam memori sel kemudian membangkitkan dampak yang berpengaruh dalam tubuh. "Saya mengalami langsung. Dulu selalu gatal-gatal jika mengonsumsi makanan berbahan petis. Sekarang tidak lagi," ungkapnya.

     

    Jika alergi tersebut disebabkan oleh pengalaman masa kecil yang mungkin pasien sudah lupa, Abah Iwan dapat membantu mengingat kembali peristiwa-peristiwa tersebut dengan cara mengaktifkan memori sel dalam tubuhnya. "Kembali dengan memanfaatkan frekuensi energi metabolisme. Dalam keheningan tertentu, ketika pola energi dalam tubuh sudah memasuki 1/6hz, maka ia bisa mengingat semua, bahkan ketika masih berada dalam kandungan," ujar pria 46 tahun itu.

     

    Metode tersebut mengingatkan pada kisah Mahabharata. Dalam episode Bharatayudha, Drona, Panglima Perang Kurawa dikisahkan memakai strategi perang cakravyuha. Yakni strategi melingkar yang menempatkan semua prajuritnya berada dalam tiap posisi lingkaran yang membentuk semacam labirin. Dari pasukan Pandawa, hanya ada satu orang yang mengetahui cara menghancurkan strategi tersebut. Yakni Arjuna.

     

    "Tapi Arjuna ketika itu ada dalam medan perang lain. Yang tahu tinggal Abimanyu. Dia mengerti cara untuk membongkar formasi cakravyuha, tapi tak tahu cara keluarnya. Abimanyu mendapat pengetahuan dari ayahnya saat masih dalam kandungan," ungkapnya. Ketika itu Arjuna mengajarkan cara menembus formasi cakravyuha pada ibu Abimanyu, Subadra ketika dia masih mengandung.

     

    "Janin Abimanyu mendengarnya. Ia dapat mengingatnya," ungkapnya.
    Hal tersebut bagi Abah Iwan bukan cerita mistis. Abimanyu dapat mengingat semua hal karena mampu membangkitkan sel yang masih menyimpan ingatan tersebut dalam tubuhnya. "Bisa dipraktikkan pada manusia zaman sekarang juga," ujarnya. Terkait alergi, Abah Iwan bercerita bahwa pada masa lalu, orang tuanya kerap melarang memakan makanan yang mengandung petis karena bagi mereka petis tak baik bagi kesehatan.

     

    "Doktrin yang terserap sepanjang waktu, akhirnya membuat saya alergi makan petis," ujarnya.
    Namun ada pula alergi yang bersifat turunan. Gen dari orang tua atau leluhur, misalnya. Baik yang disebabkan oleh pengaruh maupun turunan, alergi dapat disembuhkan menggunakan Terapi Teknologi Resonansi Metafakta Sehat Tentrem. "Tapi perlu tahu dulu penyebab utamanya. Pasien diajak mengingatnya lewat metode MTB atau Mix Transformation Booster," ungkapnya.

     

    Metode tersebut adalah bagian dari terapi yang dilakukan Abah Iwan. Ia merelaksasi pasien dengan menurunkan frekuensi energinya sampai berukuran 1/6hz. Yakni dalam kondisi sangat hening dan rileks. "Ketika penyebab alergi sudah diketahui, maka tinggal menyelaraskan energi antar sel. Jika sudah sinergis, maka paparan pemicu alergi tak membuat pasien itu tak alergi lagi," ungkap alumnus FKH Unair itu.


    Alergi secara ilmiah, disebabkan oleh protein dari luar yang masuk ke dalam tubuh dan dianggap asing oleh sistem tubuh. Misalnya alergi petis. Jika protein petis masuk dalam tubuh, maka sistem tubuh berusaha mengeluarkan protein tersebut. Proses pengeluaran tersebut menyebabkan tubuh mengalami berbagai kecenderungan yang disebut alergi. Seperti ruam merah, bersin-bersin dan sebagainya.

     

    Meja Cahaya dan Terapi Musik Oxytron

     

    "Dengan penyelarasan energi, memori dalam sel dapat menerima benda asing, tentu penerimaan dalam ambang batas tertentu. Yang jelas meski terpapar sudah tak lagi menyebabkan alergi. Seperti pengalaman saya. Sekarang makan petis aman-aman saja," ungkapnya.

     

    Begitu pula dengan penyakit-penyakit lainnya. Terapi tersebut pun mampu menerapi orang dengan kondisi kejiwaan seperti depresi, stress dan sebagainya. "Hanya masalah menata frekuensi tubuh saja. Menggunakan terapi tongkat atau paparan cahaya," ujarnya. Untuk metode tongkat, bisa diketahui frekuensi getaran energi pasien dan membantu menstabilkan atau menata metabolisme dalam tubuhnya.

     

    Sedangkan metode paparan energi cahaya dilakukan untuk meraih hasil yang lebih maksimal. Dengan hanya membaringkan pasien dan merileksasinya dengan musik Oxytron. Paduan metode-metode tersebut terbukti banyak yang cocok. Pasien Abah Iwan berdatangan dari dalam dan luar negeri.

     

    *Bersambung.....

  • Jejak Penyertaan dalam Karya Suster Noorwindhi Kartika Dewi

    Jejak Penyertaan dalam Karya Suster Noorwindhi Kartika Dewi

    Kasih Tuhan menyertai setiap langkah. Selalu ada nama-Nya dalam tiap karya Noorwindhi Kartika Dewi. Biarawati tersebut menuang pengalaman penyertaan serta pengabdian panjang kemanusiaan dan pendidikan melalui lukisan.

     

    Dalam ruangan kerja di belakang kompleks sekolah Santa Maria, Surabaya, Suster Windhi menunjukkan dua karya miliknya: Sketsa Perjalanan dan Ziarah Hidup. Keduanya dibuat dengan teknik gambar digital. 

     

    Karya Sketsa Perjalanan dipajang tepat di belakang kursi kerjanya. “Kalau ingin tahu makna lukisan tersebut, baca ini,” ujarnya. Kemudian menunjuk secarik kertas yang terselip di kaca meja. Terbaca:

     

    Saatnya melanjutkan langkah. Menuju stasi berikutnya sebagai bagian dari ziarah hidup. Warna-warni pengalaman menjadi indah ketika Engkau setia menemani dan membantuku untuk memaknai. Gusti, Engkaulah hidup dan tujuanku...

     

    Beragam objek persegi berwarna-warni terdapat di beberapa bagian seperti bingkai, di tengah-tengahnya terdapat gambaran jejak kaki. Latar putih serupa lingkaran di belakang membias, melingkupi hampir keseluruhan bidang lukisan.

     

    Dalam latar tersebut, warna-warni yang serupa dengan warna tiap objek persegi ditorehkan secara samar. Sehingga seolah semua warna tercurahkan atau berasal dari lingkaran putih tersebut. Sedangkan sudut kanan dan kiri dibuat sedikit gelap.

     

    Sketsa Perjalanan

     

    Tak hanya sebagai estetika komposisi dalam bangunan abstrak figuratif. Karya tersebut mencerminkan perjalanan spiritual Suster Windhi. “Kotak-kotak itu melambangkan pengalaman saya dari waktu ke waktu. Jejak kaki merupakan simbol penyertaan Tuhan dalam perjalanan saya,” ujarnya.

     

    Lingkaran putih yang membias layaknya sinar matahari pun merupakan bentuk dari kasih Bapa yang menaungi dan menjaga dirinya setiap saat. “Saya selalu berada dalam frame Allah. Tanpa Dia, saya nothing,” terang biarawati 59 tahun itu.

     

    Sedangkan lukisan Ziarah Hidup, mencantumkan tulisan yang dimuat cukup besar: Insieme. Berada di samping figur patung Santa Angela Merici, pendiri ordo Ursulin. “Insieme artinya kebersamaan, keharmonisan. Semua yang terjadi oleh kehendak Allah. Kata itu merupakan kata khas ordo Ursulin,” ujarnya.

     

    Dalam Ziarah Hidup, Suster Windhi menuliskan kata-kata mutiara dalam bahasa Inggris: Be bound to one another by the bond of charity / Esteeming each other / Helping each other / Bearing with each other in Jesus Christ / for if you strive to be like this / without any doubt / The Lord God will be in your midst.

     

    Maknanya, hendaknya tiap orang dapat terikat satu sama lain dalam ikatan amal. Saling menghargai, saling membantu, saling menopang dalam Yesus Kristus. Karena jika seseorang berusaha untuk menjadi seperti itu, tanpa keraguan, Tuhan akan berada di tengah-tengah orang tersebut.

     

    “Ketika lukisan itu selesai, saya merenung. Pintu dan jendela ruang kerja saya waktu itu terbuka. Kemudian tiba-tiba saja terjadi hal unik,” ujar perempuan asli Pemalang, Jawa Tengah itu.

     

    Lukisan itu berada di dinding, di atas sebuah gambar Yesus yang berdiri bersandar di papan almari panjang. Karena ruang kerja terbuka, tiga ekor burung pipit tiba-tiba hinggap di meja tersebut. Tepat di depan gambar Yesus. “Satu keluarga burung pipit. Ada induk, pejantan dan anaknya,” terangnya.

     

    Anak burung pipit bercuit di depan gambar Yesus. Induk burung menyuapi dengan makanan melalui paruhnya. Sedangkan burung pipit jantan mengawasi, seakan menjaga anak burung itu. “Langsung saya ambil handphone. Saya rekam,” ujar ketua Yayasan Paratha Bhakti, yang menaungi sekolah Santa Maria itu.

     

    Ziarah Hidup

     

    Saat disuapi, tiba-tiba anak burung berjalan ke belakang foto Yesus. Induk burung mengikutinya. Melewati lorong bingkai sebelah kanan kemudian muncul kembali di sebelah kiri. Induk burung mengejar. Tak putus asa membujuk anaknya untuk makan. Burung jantan tetap berjaga.


    “Kejadian itu berlangsung lama sekali. Keluarga burung yang sedang merawat dan menjaga anaknya itu seakan menerjemahkan makna Insieme tepat di hadapan saya,” ungkapnya. Baginya, semua itu merupakan pesan spiritual yang dikirimkan oleh Tuhan. Terlebih, peristiwa itu terjadi tepat saat perayaan Yesus Kerahiman Illahi, atau Minggu Putih pada 24 April lalu.

     

    Selain sebagai perupa, suster Windhi dikenal sebagai biarawati sekaligus pendidik yang melek teknologi. Dia piawai memanfaatkan aplikasi-aplikasi untuk melukis. Seperti adobe premiere, adobe photoshop serta beragam aplikasi android.

     

    Jika sebuah aplikasi berbayar, dia selalu menyiasati dengan teknik khusus. “Misalnya ada aplikasi berbayar hanya untuk menghilangkan background objek. Caranya gampang. Dihilangkan dulu menggunakan aplikasi lainnya. Kemudian masuk kembali ke aplikasi tersebut. Diolah. Selesai,” ungkapnya. Kemudian tertawa.

     

    Syukur dalam Keindahan-Mu

     

    Namun tak hanya karya-karya digital. Suster Windhi juga memiliki karya yang dibuat dengan akrilik dan cat minyak.

     

    Karya Syukur dalam Keindahan-Mu menggunakan cat akrilik. Sebuah lukisan tentang rangkaian daun bermotif ornamen dengan latar torehan warna-warna spontan. Paduan antara bentuk daun yang dekoratif dengan background khas genre ekspresionisme.

     

    Penataan komposisi lukisan tersebut cukup baik. Sehingga meski memadukan dua genre, lukisannya justru tampak artistik. Biasanya jika tak berhati-hati, posisi objek utama akan tampak terpisah seperti potongan gambar yang ditempel begitu saja di atas latar yang telah jadi. Terganggu akibat kontras.

     

    Sedangkan posisi daun sebagai center of interest karya Suster Windhi justru menyatu dengan warna latar. Seperti halnya lukisan lainnya berjudul Dalam Ritmik Rencana-Mu. Daun dalam lukisan tersebut tampak bervolume. “Kontur saya buat menggunakan lem tembak. Kemudian diberi warna emas. Jadi terlihat timbul,” terangnya.

     

    Bloom Where You are Planted, lukisan bunga, dibuat dengan cat minyak. Beberapa lukisan lain dikerjakan di atas media kaca dengan media akrilik. Seperti lukisan berjudul Labirin. “Pakai kaca biasa. Kebetulan di sudut sekolah ada beberapa potongan kaca tak terpakai. Saya manfaatkan,” ungkapnya.

     

    Keahlian melukis itu telah ditekuni Suster Windhi sejak kecil. Ayahnya, kerap membelikan peralatan melukis dan mendorongnya untuk terus berkarya. “Orang tua memotivasi saya, memberi kebebasan saya untuk berkarya seni. Karena seni merupakan olah rasa. Membangkitkan kreativitas serta pikiran positif,” ungkapnya.

     

    Dalam Ritmik Rencana-Mu

     

    Pendidikan seni pun diterapkan dan diajarkan dengan sungguh-sungguh untuk anak didiknya. Selain berkarya seni rupa, Suster Windhi juga pandai bermain musik dan menguasai banyak jenis tarian.

     

    Namun untuk seni rupa, dia belum pernah menyelenggarakan pameran lukisan. “Saya pajang saja di kamar dan ruang kerja. Karya saya adalah pengingat bagi diri saya tentang segenap perjalanan, serta penyertaan Tuhan. Apa yang terjadi berkat kehendak-Nya,” pungkasnya.

  • Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur: Jejak Dakwah Islam di Lamongan (3-Habis)

    Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur: Jejak Dakwah Islam di Lamongan (3-Habis)

    Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur bagi masyarakat Lamongan memiliki nilai sejarah. Pendirinya, KH Mastur Asnawi adalah sosok yang begitu dihormati pula. Selain sebagai kiai, ia juga merupakan pejuang Perang Kemerdekaan, berkontribusi dalam perekonomian masyarakat serta pendidikan. Ia juga salah satu pendiri Masjid Agung Lamongan.

     

    Bangunan berusia 103 tahun itu masih tegak berdiri di Jalan Kyai Amin no 38. Sebagai tempat ibadah, mengaji dan berbagai kegiatan masyarakat yang berkaitan dengan ritus Islam. Pendirinya, KH Mastur, warga menyebutnya Mbah Kiai Mastur, adalah sosok ulama karismatik. Kontribusinya terhadap bangsa dan negara, juga pada Kota Lamongan begitu besar.

     

    KH Mastur bersama Presiden Soekarno

     

    "Tidak diketahui tanggal pasti kelahiran almarhum KH Mastur. Namun beliau wafat pada tahun 1982. Usianya sekitar 90 tahun," ungkap KH Muhammad Faqih Arifin, cucu KH Mastur. Menurut cerita turun-temurun, sosok KH Mastur dalam keseharian sangat sederhana. Ia berdakwah sekaligus berjuang mempertahankan kemerdekaan bersama kawan-kawannya. Yakni KH. Abu Ali dari daerah Parengan, Sekaran, KH. Hasbulloh dari Galang dan KH. Ahmad Hamid dari daerah Babat.

     

    Ketika sekutu mendaratkan balatentaranya ke Indonesia, KH Mastur dan kawan-kawan seperjuangan bergabung dalam Laskar Hizbullah. Ia turut serta dalam pertempuran besar 10 November di Surabaya. Serta dalam berbagai pertempuran lain, khususnya yang terjadi di Kota Lamongan.

     

    Sebagai gerilyawan Hizbullah, KH Mastur dikenal pula sebagai pemasok senjata bagi para pejuang. Ia kerap mengambil senjata-senjata yang disimpan di bekas gedung HIS, yang ketika itu menjadi markas tentara Sekutu yang dibonceng NICA, Belanda. "Sekarang gedung itu jadi bangunan sekolah SMPN 1 Lamongan. Dulu senjata-senjata disimpan di lahan belakang langgar dhuwur," ujar KH Faqih.

     

    "Intinya KH Mastur mendermakan seluruh hidupnya demi Kota Lamongan berikut penanaman nilai-nilai Islam pada masyarakat," ujar Dzihan Zahris, putra KH Faqih yang merupakan cicit KH Mastur. Pendermaan itu tak sekadar berdakwah dan berjuang saja. Tapi juga peduli terhadap dunia pendidikan dan perekonomian warga. "Terlebih pada kaum perempuan. Almarhum sangat peduli terhadap pendidikan bagi kaum perempuan. Beliau ingin para perempuan mendapat hak pendidikan yang sama dengan laki-laki," tambahnya.

     

    Pada zaman itu, masyarakat masih terkungkung dalam kultur yang menganggap bahwa perempuan tidak terlalu penting untuk mendapatkan pendidikan. Utamanya penguasaan baca-tulis dan keilmuan-keilmuan lain, termasuk ilmu agama. "Namun beliau tegas mendampingi masyarakat dengan tulus. Terlebih terhadap kaum perempuan. Semua generasi muda harus menjadi pribadi yang terdidik, baik dari ilmu pengetahuan maupun agama," ujar pria 33 tahun itu.

     

    KH Faqih menunjuk lokasi penyimpanan senjata pada masa lalu

     

    Upaya mulia itu dibuktikan pada tahun 1919. Sepulang dari menimba ilmu agama Islam di Mekkah, KH Mastur mendirikan Majelis Ta'lim Tahfidhul Qur'an yang kini dikenal dengan sebutan Langgar Panggung atau Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur. Kemudian ia mendirikan bangunan-bangunan lain untuk kepentingan pendidikan bernuansa Islam.

     

    Madrasah Ibtidaiyyah Banat, yang kini menjadi SD NU Banat-Banin adalah salah satu bangunan madrasah yang digagas oleh KH Mastur. Bangunan tersebut terletak di Jalan Kyai Amin no 14. Jaraknya sekitar 300 meter dari Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur.

     

    Selain itu KH Mastur juga menggagas berdirinya Ponpes Al Masturiyah yang berada di daerah Kranggan, Lamongan. Kemudian Mts Putra-Putri dan Madrasah Aliyah Pembangunan. Di sela kegiatannya sebagai pendidik, KH Mastur juga juga aktif menulis beberapa kitab. "Jumlah kitab karya almarhum tak terhitung banyaknya. Masih kami simpan dengan rapi di rak almari," ungkap KH Faqih, kemudian menunjuk almari besar yang terpajang di ruang tamu rumahnya.

     

    Dzihan menyebut bahwa jika ditelaah lebih dalam, pembaca kitab-kitab KH Mastur akan menemukan kesimpulan terkait pribadinya. "Bahwa almarhum tak hanya ahli dalam satu bidang lini ilmu agama saja. Sejumlah buku kuno yang masih orisinil bertulisan tangan beliau, termuat banyak karya yang mencakup lintas keilmuan, antara lain: fiqih, tajwid, falaq, dan lain-lain," terangnya.

     

    Dalam berbagai karya tulis, KH Mastur menghadirkan pula pengajaran terkait ilmu-ilmu tentang fenomena-fenomena kontekstual yang tengah dibutuhkan. Bahkan masih relevan hingga kini. "Karya tulis dalam kitabnya kerap mengunakan metode question and answer. Tanya-jawab. Tentang fiqih misalnya, beliau banyak menggali pertanyaan-pertanyaan kemudian jawaban disajikan berdasarkan maroji’ atau sumber dari kitab-kitab kuning," ungkapnya.

     

    Bangunan Masjid Agung Lamongan yang terdapat di belakang alun-alun kota juga digagas oleh KH Mastur. Semasa hidup ia sering berdakwah di atas mimbar dalam masjid tersebut. Cerita paling populer adalah tentang karomah KH Mastur. "Konon beberapa bulan sebelum terjadinya peristiwa G30S/PKI, KH Mastur telah mendapat firasat. Ia mengetahui bahwa tak berapa lama akan terjadi peristiwa menggemparkan," ungkap KH Faqih.

     

    Dalam mimbar, KH Mastur menyampaikan, "Diluk engkas kedaden ontran-ontran. Sopo sing pingin sugih, dodolo kopiah lan kudung,". Artinya, sebentar lagi akan terjadi peristiwa menggemparkan. Siapa yang ingin kaya, sebaiknya berjualan kopiah dan kerudung. Konteksnya, ketika terjadi peristiwa G30S/PKI, banyak orang diburu. Beberapa dari mereka memilih untuk berpakaian ala santri agar terbebas dari tuduhan abangan atau simpatisan PKI. "Apa yang dikatakan kakek saya benar-benar terjadi. Itulah salah satu kisah karomah beliau," ujar pria 67 tahun itu.

     

    Dari segi perekonomian, KH Mastur pernah menggagas Syirkah Ijarah Muammalah. "Semacam lembaga koperasi untuk umat. Beliau mengumpulkan berbagai pedagang di Kota Lamongan. Saling bantu-membantu demi kesejahteraan bersama," terangnya. Kontribusinya yang begitu besar itu membuatnya menjadi sosok paling dihormati oleh masyarakat sekitar. Terutama bagi warga Lamongan. "Karena pada zaman itu, hampir seluruh masyarakat Lamongan menimba ilmu agama pada almarhum," tambahnya.

     

    Kegiatan mengaji di Langgar Dhuwur

     

    Makam KH Mastur dapat dijumpai di lokasi Masjid Agung Lamongan. Hampir setiap hari makam tersebut dipenuhi oleh peziarah. Meski kiprahnya dalam perjuangan kemerdekaan, pendidikan dan perekonomian warga begitu besar, hingga kini KH Mastur belum ditetapkan sebagai pahlawan nasional. Begitu pun langgar tua yang didirikannya. Tak kunjung ditetapkan sebagai situs cagar budaya. "Sudah diajukan oleh masyarakat. Kami sebagai keluarga memberikan support. Semoga pemerintah dapat tergugah. Mengingat KH Mastur merupakan sosok penting bagi masyarakat Lamongan," pungkasnya.

  • Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur: Jejak Dakwah Islam di Lamongan (2)

    Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur: Jejak Dakwah Islam di Lamongan (2)

    Usia bangunan Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur telah seabad lebih. Perawatan dan pemeliharaannya dikerjakan oleh masyarakat dan keluarga KH Mastur Asnawi, pendiri bangunan tersebut. Upaya renovasi pernah dilakukan untuk memperkuat kekokohan bangunan.

     

    Lamongan merupakan salah satu kawasan awal persebaran dan peradaban Islam di tanah Jawa. Terutama di Jawa Timur. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya makam Sunan Drajat dan Sunan Sendang Dhuwur di kawasan pesisir. Di pusat kota, Langgar Panggung Mbah Yai Mastur berdiri tegak dengan arsitekturnya yang masih asli. Tak berubah sejak seabad silam.

     

    Seusai salat magrib, KH Muhammad Faqih Arifin, pengelola Langgar Panggung Mbah Yai Mastur menunjukkan seluruh bagian bangunan tersebut. "Bentuk atapnya masih tradisional. Limasan. Seperti rumah-rumah penduduk Jawa pada masa lalu. Terbagi menjadi beberapa bagian. Atap utama menutupi bagian utama langgar. Memayungi semua jamaah yang sedang salat atau mengaji," ungkapnya.

     

    Konstruksi atap bangunan tersebut menggunakan kuda-kuda kayu. Sedangkan material penutup adalah genteng yang sebenarnya berwarna coklat kemerahan. "Usianya sudah seratus tahun lebih. Jadi warnanya agak menghitam," ujarnya. Bentuk atap yang berada di bagian atas tempat pengimaman jika dilihat dari luar sedikit menjorok ke lahan sampingnya.

     

    Tangga kayu akses masuk langgar

     

    Dinding bangunan tersebut menggunakan material kayu papan. Disusun secara vertikal pada separuh konstruksi di bagian bawah dan separuh lagi di bagian atas disusun horisontal. Bagian atas tersebut dipasang secara merata dan teratur. Tiang kayu penyangganya terlihat membentang dari luar. KH Faqih mengetuk papan kayu langgar tersebut. "Masih sangat kuat. Selama ini kami hanya mengecatnya ulang," ungkap pria 67 tahun itu.

     

    Dzihan Zahris, putra KH Faqih datang dan ikut menunjukkan tiap sudut konstruksi bangunan yang didirikan oleh kakek buyutnya, KH Mastur Asnawi tersebut. "Kayu jati semua. Untuk bangunan atas masih asli. Tidak ada perubahan apapun. Namun bagian bawah, kami memperbaiki beberapa kayu penyangga yang porosnya telah rapuh. Tapi tidak sampai mengubah bentuknya," ungkapnya.

     

    Bangunan tersebut cukup unik, karena tidak memiliki pintu utama. Akses masuk bagi para jamaah hanya melalui tangga dengan kemiringan yang sedikit tegak. Terbuat dari kayu pula. Satu-satunya pintu hanya terdapat pada bagian dalam langgar, sebagai akses masuk ke gudang. Terbuat dari kayu dengan tinggi keseluruhan 220 cm. Tinggi dua daun pintu 170 cm dan tinggi kisi-kisi atas 50 cm dengan lebar keseluruhan 80 cm.

     

    Langgar Dhuwur Mbah Yai Mastur memiliki 2 jendela utama yang berada disisi bangunan utama. Jendela tersebut memiliki dua daun jendela. Masing-masing setinggi 150 cm, terdiri dari 120 cm tinggi daun jendela dan 30 cm tinggi kisi-kisinya. Lebar jendela secara keseluruhan adalah 120 cm. Materialnya juga terbuat dari kayu jati. Di atas daun jendela terdapat kisi-kisi yang berfungsi mengalirkan udara masuk ke dalam bangunan tersebut jika jendela ditutup.

     

    Jika dilihat dari luar, fasad bangunan tersebut terlihat simetris kanan dan kiri. Ciri khas fasad utamanya berbentuk rumah panggung. Bagian bawahnya tidak difungsikan. Hanya sebagai sarana bercengkerama bagi para jamaah setelah salat atau mengaji. Fungsi awalnya untuk mencegah rendaman banjir. Lamongan pada masa lalu kerap dilanda banjir. "Selain itu kakek saya mendakwahkan Islam secara sembunyi-sembunyi. Jauh dari pengawasan pemerintah kolonial. Bangunan ini sebagai tempat konsolidasi para gerilyawan juga," ungkap KH Faqih, yang merupakan cucu dari KH Mastur.

     

    Pada masa pemerintahan Bupati Lamongan KH Moch Faried, langgar tersebut sempat direnovasi untuk memperkuat konstruksinya. Bupati Faried memerintahkan pembangunan kolom panggung langgar menggunakan material kolom beton. "Hanya untuk memperkuat saja. Tidak mengubah apapun. Kalau kolom langgarnya masih menggunakan kayu jati. Masih kuat," ujarnya.

     

    Sebagai bangunan yang sedang diajukan sebagai cagar budaya oleh masyarakat sekitar serta pihak keluarga KH Mastur, upaya renovasi memang diperlukan apabila terdapat elemen-elemen bangunan yang telah mengalami kerusakan atau penurunan kondisi fisik. Sehingga tetap dapat difungsikan seperti semula. Namun, kegiatan renovasi tidak sampai mengubah karakter bangunan yang berfasad rumah panggung berikut tampilannya yang sederhana.

     

    "Tujuannya agar nilai-nilai sejarah terkait bangunan langgar serta sosok KH Mastur masih bisa dinikmati oleh generasi muda. Mereka bisa belajar tentang sejarah Islam, Perang Kemerdekaan dan arsitektur lampau dari langgar ini," ungkap Dzihan. Sampai saat ini terdapat banyak kegiatan yang dilakukan masyarakat serta pihak keluarga dalam langgar tersebut. Seperti tiap Jumat malam, diadakan pengajian rutin Mbalah Ngaji Tafsir Ibriez yang dipimpin oleh KH Faqih.

     

    Ruang bagian dalam langgar

     

    Saat pandemi dan dikeluarkannya aturan PPKM, langgar tersebut masih digunakan sebagai tempat salat, namun tidak mengabaikan protokol kesehatan. "Kami memegang teguh Liyusri al ijtima' bi al huduud. Artinya mempermudah masyarakat untuk berkumpul melaksanakan ibadah meski dengan batasan-batasan tertentu," ujarnya.

     

    KH Faqih dan Dzihan menunjukkan bagian belakang langgar. Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam. Sehingga suasana bagian belakang tersebut tampak gelap. Di situ terdapat tempat wudhu dan sumur tua. Di sisi sampingnya terdapat lahan kosong yang terdapat kayu-kayu serta puluhan bambu. "Dulu, di lahan itu kakek saya, KH Mastur menyimpan senjata-senjata yang dicuri dari markas tentara Belanda," ungkapnya.

     

    Semasa hidup, selain sebagai pendakwah karismatik, KH Mastur juga berjuang sebagai gerilyawan. Bersama kawan-kawan seperjuangan, mereka kerap mengendap-endap menuju markas tentara Belanda yang kini menjadi bangunan SMPN 1 Lamongan. Beberapa pucuk senjata api berhasil dicuri dan diletakkan di bagian belakang langgar tersebut. Kemudian melakukan konsolidasi perjuangan untuk melawan pihak kolonial.

     

    Meski berkali-kali tindakan pencurian senjata itu dilakukan, anehnya Belanda tak pernah bisa menemukan pelakunya. Saat Perang Kemerdekaan, KH Mastur bergabung pula dengan Laskar Hizbullah. Almarhum turut berjuang dalam Perang 10 November 1945 yang berkobar di Surabaya. "Dalam kegiatan sosial, perekonomian umat, pendidikan, beliau juga punya peran besar. KH Mastur merupakan salah satu pendiri Masjid Agung Lamongan yang berada di belakang alun-alun kota. Ada juga beberapa pesantren dan madrasah," ungkapnya.